ANTARA GALAU DAN ANTHONARSIZ YATSUMONO

09.09 Impian Nopitasari 0 Comments


Wah judulnya kok frontal banget ya, apa coba hubungan galau sama Mas Mono? Makanya baca dulu sampai akhir baru komen.
Entahlah beberapa hari ini aku kacau banget, 2 minggu nggak nulis, kecuali nulis status. Ditambah harus bedrest selama seminggu. Sungguh keadaan yang benar-benar galau. Parahnya aku memamerkan galau tersebut kepada khayalak ramai, sesuatu yang dulu sangat kuhindari, tapi malah kulakukan sekarang. Sepertinya sistem otak dan hatiku memang sedang error.
Kerjaku berhari-hari ini hanya tidur, baca buku, sms-an, online, nangis, online lagi. Tentu saja aku nggak ngelupain sholat dan khatamin Al Qur’an. Tapi aku merasa belum mendapat apa-apa di bulan Ramadhan tahun ini. Entah, aku merasa ini ramadhan yang paling garing, setiap malam aku bermuhasabah, intropeksi diri, sepertinya ada yang salah pada diriku, tapi apa, aku belum tahu.
Aku juga merasa gila akhir-akhir ini. Sms ke nomer sendiri, dibales sendiri, e-mail ke alamat e-mail sendiri, dibales sendiri, buat akun FB lagi yang temannya Cuma FB umumku,inbox sendiri, juga dibales sendiri. Yang gak kulakukan adalah menelpon diri sendiri. Soalnya itu nggak bisa.
Ya sudah, akhirnya aku menemukan seseorang yang mau menemaniku, namanya Bramantyo. Terjadilah dialog antara aku dan Bramantyo.
Aku        : Bram (aku lebih suka manggil dia Bram daripada Rama) ke Parangtritis yuk?
Bram     : Mau ngapain? Enak di Mutun daripada di Parangtritis.
Aku        : Emang udah pernah ke Parangtritis, ayolah, di Mutun kamu nggak akan bisa ngelupain Namia.
Bram     : Jangan sok tau kamu, sebenarnya aku masih trauma sama pantai.
Aku        : Aku juga sebenarnya begitu Bram, makanya kita hilangkan trauma kita, aku akan ke Mutun, kau juga harus ke Parangtritis ya, kita main-main saja di sana, teriak sepuasnya, main pasir, lihat sunset. Apa saja, yang penting kita berdamai dengan masa lalu.
Bram     : (tiba-tiba menghilang tanpa jejak)
Aku        : (bingung dan berteriak) Braaammmm….kamu ke mana?? Jangan tinggalin aku Bram!!!
Aku sudah nggak melihat Bramantyo lagi, aku sedih, dia juga ninggalin aku. Mataku sudah penuh dengan kubangan air. Kurasakan seseorang memgang keningku. Bram, kaukah itu?
“Mbaaaakkkk… panas banget, di termometer ini panasmu 38 derajat, OMG, ayo ke dokter,”
Ah ternyata bukan kamu Bram, desahku kecewa.
***
Orang-orang kampus heran dengan keabsenanku. Biasanya aku penghuni kampus paling setia, mau hari aktif atau libur pasti aku akan eksis di sana. Semua aku cuekin, termasuk dosen. Gila ya, di saat teman-teman lain berebut perhatian dosen aku malah nyuekin mereka, beliau-beliau yang malah selalu ngontak aku, ya beginilah resiko jadi mahasiswa popular, ishh..
“Impiaaannn..artikelnya manaa???,”
“Mbak..editannya belum rampung ya? ini mau naik cetak lho!!,”
Telfon-telfon dan sms senada banyak yang mampir di Hape-ku. Aku lagi nggak mau nerima order apapun. Lagi bodo amat ngurusin majalah, biar junior-junior yang unyu-unyu itu yang harus belajar mandiri, aku lagi nggak mau ngapa-ngapain.
Kecuali Facebook and Twitter-an. Hihi.
Ada yang selalu membuatku ngakak ketika FB-an. Ada akun yang mengatasnamakan diri sebagai Anthonarsiz Yatsumono yang memang benar-benar mono-mono *apaan sih. Beneran deh, baca komen atau status orang ini pasti bikin galau musnah seketika. Apalagi jempol-jempolnya selalu menghiasi notif-ku. Belum upload-an fotonya yang Menuhin beranda *upz, haha.
Aku tahu, dia nggak maksud bikin orang ketawa, nggak maksud menghibur. Tapi tanpa sadar komennya yang memang gak pernah jelas itu sanggup menghilangkan galauku untuk sementara. Apalagi aku nggak nyangka dia juga Teenholics, dan masih nyimpen tulisan jadulku jaman SMA. Makasih upload-annya ya Mas Mono, soalnya punyaku sudah raib entah kemana. Aku suka banget tulisan You’ve Got Mail itu, bikin trenyuh. Haha.
Makasih ya Mas Mono sudah memperkenalkan aku dengan Bramantyo, walau orangnya nyebelin banget nggak mau ke Parangtritis, padahal aku mau ajak dia ketemu penguasa pantai selatan, hiii. Mungkin aku harus ke Mutun dulu biar dia mau ya? oke lah Insya Alloh tahun depan aku mau ke Mutun. Dia nggak boleh patah hati terus-terusan, dikiranya dia aja yang patah hati? Aku juga tau. Huu.
Wah sepertinya aku juga harus berterima kasih pada Mas Alfian Daniear, sudah memberikan satu Unyu-nya untukku, membuatku tahu ada Bramantyo di situ. Apa kabar ya dia? Pasti sibuk banget. Kangen juga ya ternyata *hush, ini kan edisi khusus Antonius Pramono, jangan bahas Alfian.
Mas Mono, meskipun kita belum pernah ketemu, tapi makasih ya sudah mau jadi temanku di dunia absurd. Aku yakin suatu saat nanti kau akan jadi penulis terkenal yang tetep humble. Maaf aku belum sempat beli kacang telurmu, masih belum bisa ke mana-mana nih. Doakan aku cepat kembali normal, dan tetep, titip salam ya buat Bramantyo. Hehe.
Solo, di suatu ruangan sempit, 14.25 WIB
Temanmu,
Impian Nopitasari


0 komentar:

PADA HELAI KAMBOJA, Cerpen Antologi Joglo

09.23 Impian Nopitasari 0 Comments


Aku melihatnya lagi.
Semburat jingga di ufuk barat sore ini terlihat sangat terang. Benar-benar eksotis. Lukisan alam karya Sang Seniman Maha Agung.
Lukisan senja di kanvas langit sore.
Senja ini masih sama dengan senja-senja kemarin. Senja-senja yang pernah kita nikmati bersama. Mengaguminya, mengandai-andaikannya. Senja yang selalu membuat kita termenung, membuat kita terdiam sejenak.
Sejenak, hanya sejenak.          
Juga sejenak hari ini yang masih ditemani senja. Masih ditemani angin sore yang membelai daun-daun pakis, rumpu-rumput liar, bunga palem dan menggugurkan daun-daun kamboja.
Dalam helai kamboja, aku melihat dirimu.
*
Aku belum mengenalnya.
Kuyakinkan diriku sendiri untuk menerima pernyataan itu. Walau sebenarnya ada keinginan  untuk menyangkalnya.
Tapi aku tak bisa.
Sejak pertama kali bertemu dengannya, aku  tahu dia berbeda. Dia punya sesuatu yang kucari selama ini. Sesuatu yang bahkan aku sendiri tak yakin lagi akan menemukannya. Dia punya sesuatu yang sudah kulupakan. Dia adalah pemilik warnaku yang hilang.
Warna surga yang telah usang.
Angin malam mulai masuk ke celah dinding kamarku. Perlahan-lahan meminta perhatian dengan menghembuskan semilirnya. Dua ekor cicak asik berkejar-kejaran. Terlihat sangat akrab dan mesra. Tak peduli dengan diriku yang sedang menontonnya.
Bahkan aku iri dengan dua ekor cicak!
*
“Kau tahu, jika kau sudah mencintai sesuatu, kau akan menyimpannya dan tak akan ada orang satu pun yang bisa mengambilnya!” katanya padaku.
Udara bergolak.
Aku yang dari tadi sibuk mengaduk-aduk es teh berhenti seketika. Raut mukaku berubah seperti es teh yang kuaduk-aduk. Kipas angin di atasku masih berputar kencang. Mungkin ingin meredakan kepalaku yang mulai panas. Saking kencangnya hingga menerbangkan kertas-kertas tugas di atas mejaku.
“Bahkan aku tak diijinkan mengambilnya mas? Sungguh tak ada kesempatan sekali pun untukku?” kataku dengan raut muka kecewa.
“Maafin mas ya, kau sahabatku, tapi aku cinta dia. Walau dia tak pernah menganggapku sama sekali,” katanya datar.
Mataku seperti berenang dalam kubangan air. Tangis ini kutahan sekuat tenaga. Mendengar kata-katanya tadi sungguh membuatku gemas. Seharusnya dia tahu bagaimana rasanya tak dianggap. Ingin rasanya kutumpahkan es teh ini ke wajahnya.
Aku dekat dengannya. Tapi aku belum mengenalnya.
*
Sekedar  tahu siapa dia pun sulit, apalagi mengenalnya.
Dia berhasil menciptakan sekat yang tebal dan kokoh. Dia bangun sekat itu setinggi mungkin dengan duri-duri yang akan menusuk jika nekat memanjatnya. Sekat yang tak memungkinkan diriku untuk melihatnya.
Membiarkan diriku hanya bisa selalu menerka-nerka.
Jika kau memang ingin menciptakan sekat , buatlah. Aku mengerti kau tak ingin diriku masuk dalam kehidupanmu terlalu dalam. Tapi tolong, jangan kau ciptakan sekat dengan dinding tebal dan duri pengaman. Ciptakanlah sekat dari kaca, agar aku tetap bisa melihatmu walau tak kan bisa menggapaimu.
Agar bisa melihatmu dan mengerti siapa sebenarnya dirimu.
Cukup hanya bisa memahamimu tanpa harus masuk dalam kehidupanmu.
Sungguh benar-benar sulit mengenal siapa dirimu.
*

PARANGTRITIS, 28 NOVEMBER 2010
Deburan ombak bergema begitu keras. Gelombangnya bergulung-gulung menghantam barisan karang yang berdiri kokoh. Karang-karang hitam itu diam saja dihantam sang ombak. Keangkuhannya tak mengalahkan sang ombak untuk selalu menghantamnya.
Aku berjalan menapaki pasir hitam yang terhampar bak permadani alam yang indah. Butiran-butiran kecil yang menempel di kakiku membuatku tergoda untuk memainkannya. Membuatku duduk sendiri di tengah keramaian.
“Kok duduk di sini sendiri, ndak main sama temen-temen?” tanyanya padaku.
Ucapannya yang tiba-tiba sontak membuat aku tersadar dari lamunan.
“Emm.. aku nggak suka pantai mas. Aku benci jika harus berbasah-basah seperti mereka,” kataku padanya tanpa berani menatap wajahnya. Teman-temanku yang sedang bermain di tepi pantai menjadi pelarianku.
“Kenapa ndak suka? Mas dulu juga ndak suka pantai. Tapi sekarang jadi suka,” jelasnya padaku.
“Kok bisa? Apa yang membuat mas suka?” tanyaku dengan penasaran.
Dia tak segera merespon pertanyaanku tetapi malah mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Benda kecil berwarna hitam. Seperti besi.
“Lihat ini ya,” katanya sambil memeperlihatkan benda itu kepadaku “ini namanya magnet pasir, ketika mas taruh magnet ini diatas pasir, semua pasir menempel padanya. Kalau boleh memilih pasir itu tak ingin menempel pada magnet ini. Tapi, magnet ini yang membuatnya tertarik.”
“Aku nggak ngerti mas?” kukatakan hal itu dengan kening berkerut.
“Pasir itu adalah mas dan magnet itu adalah pantai. Ada suatu hal yang membuat mas tertarik pada pantai,” katanya sambil tersenyum.
“Sesuatu itu adalah senja.”
*
Kau begitu menyukai senja.
Dulu aku tak mengerti mengapa kau begitu menyukai fenomena alam pergantian siang dan malam itu. Senja bagiku tak lebih dari rutinitas alam harian yang tak perlu dikagumi. Tapi senja mempunyai arti tersendiri di sudut hatimu.
Senja, sebegitu indah kah dia bagimu?
“Ada nuansa magis ketika kau melihat senja. Tak sekedar siluet-siluet mega yang terbiaskan oleh cahaya matahari yang mulai tenggelam. Senja, saat itulah para malaikat membawa doa para hamba menuju arsy,” jelasmu padaku.
“Begitu ya? apakah para malaikat itu juga membawa doaku?” tanyaku dengan heran.
“Para malaikat membawa setiap doa anak manusia untuk disampaikan pada Sang Pemilik Senja. Termasuk doamu,” kau tersenyum mengatakannya.
Duhai malaikat, bawalah doaku pada-Nya. Bawalah untaian Rabithah ini ke Arsy-Nya. Bawalah segenap kekagumanku pada-Nya. Kekagumanku dengan ciptaanNya yang sangat mengagumi senja.
*
Aku hanya mengingat senja ketika kelopak kambojaku merekah. Aku selalu berharap hatiku bisa merekah seperti kamboja.
Seperti senja sore itu, di tepi danau Salsabila.
Danau Salsabila, sebuah danau di dalam komplek kampus UMS menawarkan suasana tersendiri untuk menikmati senja. Lambaian daun teratai dan kecipak air oleh ikan mas, mujair dan lele semakin menambah eksotis. Burung-burung sendari beterbangan di atas danau. Bercengkrama dan berkejar-kejaran, kadang malu-malu menenggelamkan kakinya ke dalam air dengan cepat, lalu terbang lagi.
Sore itu, senja diwarnai gelapnya mendung.
Kau masih duduk di sampingku. Diam. Dan hanya terdiam. Ada sesuatu yang ingin kau sampaikan. Tapi tak kuasa untuk mengatakannya. Bahkan aku tak sanggup melihat raut wajahmu.
“Nay, mas mau pulang ke Medan. Doakan mas ya Nay,” katamu lirih.
Angin berhembus membelai tubuhku. Rintik hujan mulai turun. Tapi aku tak peduli.
Aku masih memegang kambojaku dengan erat. Kamboja yang ingin kutanam di tepi danau. Tapi urung kulakukan karena mendengar berita darimu.
“Secepat itu kah mas? Kenapa tak tinggal di sini untuk beberapa waktu?,” kataku memohon.
“Mas sudah janji sama mamak dan bapak mas untuk segera pulang setelah menyelesaikan studi, tapi mas ndak akan pernah melupakan Solo Nay, melupakan Nay, sahabat terbaik yang pernah mas kenal. Maafkan mas atas segala salah dan khilaf yang mas lakuin sama Nay,” jelasmu padaku.
“Mas..Mas Nazrul..,” isakku “aku tahu, aku nggak akan pernah bisa memekarkan kelopak kamboja di hati mas. Jangankan mekar, menumbuhkannya pun sulit. Aku tahu kelopak kamboja itu bukan milikku. Tapi untuk saat ini, kumohon bawalah pohon kamboja ini ke rumahmu mas. Bawalah ini ke tanah seberang. Rawatlah ia sebagai pengingat bahwa mas pernah punya seorang sahabat bernama Rinai,”
Aku urung menanam kambojaku bersamanya. Kuberikan kamboja itu padanya.
Aku tak sanggup melihatnya lagi.
Duhai Rinai, tak reda juga raut cemberutmu. Nikmati saja cuaca hari ini.
Sebentar lagi mendung berwajah pelangi.

*
Hari ini, kulihat senja semakin murung.
Aku teringat dengan kamboja yang kau bawa pulang ke tanah seberang. Akankah helai-helai kamboja yang kulepas bersamamu akan tumbuh kelopak-kelopak kamboja baru? Kelopak-kelopak kamboja yang merekah penuh warna? Atau malah layu sebelum terkembang?
Dalam helai kamboja, aku melihat dirimu.
Meskipun aku tahu kau akan memberikan kelopak-kelopak kamboja itu pada orang lain. Tapi tak mengapa bagiku karena aku hanya menitipkan cintaku pada helai-helai daun kamboja. Biarlah helai-helai itu yang memberi nafas kehidupan untuk kelopak-kelopak kamboja yang merekah di hatimu.
Sampai helai-helai daun itu gugur dari batangnya.
Kutitipkan salamku pada helai kamboja untukmu. Karena saat ini hanya satu yang aku rasakan.
Rindu.
***











0 komentar:

PEMULUNG ILMU

09.15 Impian Nopitasari 0 Comments



Tak kuhitung berapa kali kakiku mondar-mandir di ruangan ini. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan 6x3 m yang sesak oleh tumpukan buku dan rak-rak kayu. Mengecek dan mengecek, mencari sesuatu yang absen terlihat di mataku.
Nihil.
“Hilang lagi mbak?” suara gadis kecil mengagetkanku.
Aku mengangguk.
“Lagi,?” tanya gadis itu dengan dahi berkerut.
Aku hanya menjawab dengan helaan nafas dan senyum kecut. Dan itu menambah ekspresi kesalnya.
Dinda, nama gadis kecil itu. Anak asuhku di rumah singgah ini. Dia yang membantuku mengurus taman baca IQRO yang kudirikan setahun yang lalu. Kehilangan koleksi buku sangat memukul perasaannya.
Juga diriku, sebagai pengurus inti di rumah singgah ini.
***
“Kamu jangan ndiemin masalah ini begitu saja dong Va! Harus ada tindakan atau kau mau taman bacamu tinggal almarhum?” bentak mbak Widi, ketua LSM Rumah Singgah Iqro ketika memimpin rapat.
“Aku harus gimana mbak? Apa perlu pasang CCTV?” balasku dengan ketus.
“Sakarepmu lah Va1,”
Mbak Widi sepertinya tak bisa mengendalikan emosinya. Begitu juga aku. Kita memang sering beda pendapat. Tapi entah kenapa masalah ini membuat kita naik darah. Tak mau mengalah, mengandalkan ego masing-masing.
Aku ingin keluar mencari angin segar.
Beberapa hari ini taman baca yang kuasuh digegerkan dengan hilangnya beberapa koleksi buku. Tentu ini masalah yang besar untuk perpus mini yang koleksi bukunya tak seberapa. Aku tak bisa mengira-ngira siapa pelakunya. Setiap hari taman bacaku penuh dengan anak-anak jalanan yang mampir untuk membaca.
Apa aku tega mencurigai mereka? mereka mau mampir saja aku sudah senang.
***
Hari ini aku ingin berburu buku bacaan lagi. Walau tak bisa mengganti koleksi yang hilang, setidaknya ini menjadi obat kehilangan. Kulangkahkan kakiku menuju pasar buku Sriwedari, pusat buku murah di Solo.
Semoga ada buku murah dan bagus yang bisa kubeli.
Kakiku melangkah menyusuri gang sebelah barat Sriwedari, menuju Bu Sri2. Menendang-nendang kerikil sebagai uangkapan rasa kesalku. Matahari galak menyengat, sepertinya dia tahu apa yang kurasa. Udara bergolak, semakin menambah dramatisasi suasana hatiku.
Langkah kakiku tiba-tiba tersendat. Mataku menangkap pemandangan yang membuatku enggan melangkah. Seorang anak laki-laki kecil berseragam merah putih bersandar di gerobak sampah.
Bersandar sambil membaca buku!
Naluriku sebagai pengasuh anak-anak jalanan membawa diriku untuk berjalan mendekati anak itu. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya ia kerjakan di dekat tempat bau seperti ini. Bersebelahan dengan gerobak yang penuh dengan sampah bukanlah tempat yang ideal untuk membaca buku.
“Lagi baca apa dek?” tanyaku pada anak itu.
Ia tak segera menjawab pertayaanku. Raut keheranan nampak di wajahnya. Aku baru sadar aku ini orang asing yang tiba-tiba bertanya. Pantas saja ia sedikit takut.
“Hmm.. ndak baca apa-apa mbak, ini lagi ngerjain PR Matematika,” jawabnya dengan terbata-bata.
Cepat-cepat ia menutup dan menyembunyikan buku yang ia baca ke dalam tas. Dengan cepat dikeluarkan buku tulis dan pensil dari tasnya. Bergegas mengerjakan tugasnya.
Kenapa harus takut seperti itu? Apa yang salah dengan buku bacaannya?
“Arif, PRnya sudah rampung le?” suara pria setengah baya mengagetkanku.
Di sampingku sudah berdiri bapak-bapak. Usianya sekitar empat puluhan. Memanggul karung berisi sampah dan memegang besi bengkong. Dari penampilannya aku bisa menebak apa pekerjaannya. Memungut sampah. Seorang pemulung.
Ngapunten, Maaf pak, tadi saya kebetulan lewat, terus lihat adik ini sedang baca buku. Saya ingin tahu saja pak. Hebat, masih mau membaca buku di tempat seperti ini,” kataku pada bapak itu dengan gugup.
“Iya mbak, ndak apa-apa. Dia anak saya, namanya Arif. Suka sekali membaca dan pintar mencari buku-buku bekas yang dibuang. Saya hanya bisa mulung mbak, ndak bisa ngasih buku bagus yang lebih. Walau saya pemulung tapi saya tak ingin anak saya bodoh seperti bapaknya,” kata bapak itu menjelaskan sambil duduk melepas lelah.
“Oh ya, perkenalkan, saya Eva pak. Pengurus rumah singgah Iqro,” kataku memperkenalkan diri “kami menerima anak-anak jalanan, pengamen, anak terlantar dan lainnya untuk dibimbing. Di sana juga ada perpus kecil. Saya senang sekali kalau Arif bisa kesana. Jadi ndak perlu mulung buku-buku bekas lagi. Gimana Arif? Mau kan?,”
 Terlihat raut senang di wajah Arif, ia menoleh ke wajah ayahnya, meminta persetujuan. Sang ayah mengangguk.
***
Aku merasa lelah karena seharian mengurus rumah singgah. Mbak Widi sedang mengunjungi orang tuanya di Semarang jadi otomatis diriku sendirian mengurus rumah singgah dan taman baca.
Aku membaca arsip-arsip kejadian di buku kerja. Dua bulan terakhir merupakan hari-hari berat bagiku. Mulai dari kehilangan anak binaanku yang menjadi korban tabrak lari sewaktu mengamen, ada yang ditangkap polisi karena dituduh mengganggu ketertiban umum, sampai kasus hilangnya buku-buku di taman baca.
Apalagi para “boss” anak-anak yang menjadi binaanku sering melakukan teror. Mereka memang tidak suka dengan adanya rumah singgah seperti ini. Mesin uang mereka terhenti karena aku “merebut” mereka. Bukan perkara yang gampang memang mengalihkan pekerjaan anak-anak dari mencopet, mengemis untuk mau bersekolah dan menyalurkan bakat positif mereka di rumah singgah.
Tidak mudah menghadapi semua ini.
Untunglah keceriaan anak-anak itu menjadi obat kegelisahanku selama ini. Apalagi jika melihat semangat mereka yang tinggi untuk menimba ilmu di tengah kesulitan hidup yang semakin sulit saja. Orang tua yang tak terlalu mendukung juga menjadi tantangan tersendiri bagi mereka dan bagiku sebagai pembina.
Aku harus selalu memberi semangat hidup bagi mereka.
Beruntung sekarang aku punya Arif, anak yang kutemui di gang barat Sriwedari dulu. Dia bersama Dinda menjadi penghuni favorit taman baca. Tak banyak orang tua seperti bapaknya Arif mengizinkan anaknya kesini. Biasanya mereka menuntut untuk selalu bekerja.
Berada di rumah singgah hanya membuang waktu dan kesempatan mendapat uang.
Arif anak yang cerdas, setengah dari koleksi buku sudah ia baca. Ia memang pembaca cepat dan pemilik rasa ingin tahu yang tinggi. Pagi sampai sore ia sekolah dan membantu memulung sampah. Malamnya, ia menjadi penghuni tetap taman baca.
Aku sering menemaninya belajar bersama Dinda.
***
“Mbak Eva, cepetan kesini Mbak,” teriak Dinda padaku.
“Emang ada apa to?” tanyaku heran.
Dinda menunjukkan sesuatu padaku. Satu kardus yang diletakkan di depan pintu. Pikiran macam-macam memenuhi otakku. Jangan-jangan ini bom? Segera kutepis pikiran buruk itu. Dinda menyodorkan amplop yang berada di atas kardus itu. Ternyata surat.
Kepada: Mbak Eva yang baik hati.
Terimakasih sudah menjadi lentera di tengah kegelapan hidup saya. Saya hanya ingin minta maaf. Selama ini saya yang diam-diam mengendap-endap di malam hari untuk “meminjam” buku dari taman baca sebelum mbak bertemu dengan saya di Sriwedari dulu. Saya sadar cara saya salah. Saya nggak mau jadi pencuri ilmu Mbak, biarlah saya memulung ilmu di sini. Ijinkan saya menjadi pemulung ilmu. Buku-buku ini saya kembalikan. Saya tahu, kehilangan buku adalah beban buat Mbak. Sungguh, maafkan adikmu yang kurang ajar dan tak tahu diuntung ini.
Arif.
Ya Allah, ternyata selama ini Arif yang mencuri buku-buku di taman baca. Butir-butir bening jatuh dari kelopak mataku. Aku tak marah denganmu, aku menghargai kejujuran dan keberanianmu.
Kembalilah Arif, segudang ilmu menungggumu.
***
Catatan:
1.      Terserah kamu deh Va.
2.      Bu Sri, singkatan dari mBUri SRIwedari (Belakang Sriwedari), nama familiar untuk menyebut pasar buku murah di belakang Taman Budaya Sriwedari, Solo.



0 komentar: