GUSTI ORA SARE1

09.33 Impian Nopitasari 0 Comments


Masih sepuluh donatur lagi. Dan aku tak tahu di mana rimbanya.
Selalu saja seperti ini tiap bulan. Kepalaku mulai cenat-cenut dibuatnya.  Pandangan sekitar  serasa kabur. Benda sekelilingku seperti bergerak sendiri mengikuti kebingunganku. Amanah ini menuntutku untuk bertanggung jawab lebih dari pada yang lain.
Sepuluh donator, berarti harus ada Rp. 100.000 yang dikeluarkan.
Sudah setahun ini aku menjadi koordinator donator Solopeduli, sebuah lembaga yang menangani ZISWAF (Zakat, Infaq, Sadaqah , dan Wakaf). Pekerjaanku adalah menjadi fasilitator para donator untuk menyumbangkan dananya. Tidak berat sih, hanya sebagai koordinator untuk teman-teman organisasiku saja, agar mereka tak repot datang langsung ke kantor Solopeduli.
Setiap donasi minimal Rp. 10.000,00 para donatur mendapatkan saatu majalah Hadila sebagai souvenir, jika wakaf minimal Rp. 35.000,00 akan mendapatkan satu buku agenda Solopeduli. Tentu saja fasilitas seperti ini membuat semangat para donatur. Apalagi aturan seperti itu hanya berlaku satu bulan. Donatur boleh menjadi tetap atau tidak tetap. Sungguh cara menjadi donatur yang mudah.
Masalahnya, bagaimana kalau donatur tetap itu menghilang tanpa kabar?
***
Alhamdulillah Mbak, bulan ini dapetnya Rp. 850.000,00. Soalnya ada donatur baru yang menyumbang,” kataku pada wanita di depanku.
Aku menyerahkan amplop cokelat berisi uang donasi dan kuitansi bukti pembayaran. Perempuan itu adalah Mbak Hidayah, koordinator Solopeduli di atasku. Setiap donasi terkumpul, aku harus menyetorkan padanya.
Jazakillah ya Dik, semoga kebaikan sampeyan dan para donatur dibalas Allah, dimudahkan rizkinya, dilancarkan urusannya, kuliahnya cepat lulus dan mendapat jodoh bagi yang belum dapet,” kata Mbak Hidayah sambil tersenyum padaku.
“Aamiin,” aku mengamini doanya.
Selalu ada perasaan senang yang menghampiri hatiku setiap mengamini doa Mbak Hidayah. Perasaan berat hati menjadi koordinator donatur menguap entah ke mana. Walau kadang susah mengingatkan para donatur itu untuk berdonasi, tapi setiap melihat uang terkumpul begitu banyaknya, ada perasaan bangga dalam hatiku.
Bangga bisa menjadi orang yang berguna.
Masalah yang masih belum bisa kuselesaikan adalah, bagaimana mengingatkan para donatur tetap untuk menjalankan kewajibannya. Sebenarnya bukannya aku memaksa mereka untuk beramal. Aku tak pernah mengajak orang untuk berdonasi, aku hanya menjelaskan. Mereka sendiri yang sukarela menjadi donatur. Jika menjadi donatur tetap, seharusnya tiap bulan harus menyetor. Kalau tidak, aku juga yang pusing. Donatur tak ada, sedangkan laporan harus ada. Aku adalah tipe orang yang tak bisa galak dan tak suka melapor.
Tak ada cara lain selain nomboki mereka walau itu berarti harus mengurangi biaya hidupku.
Biar Allah yang membalas semuanya. Aku ingin belajar ikhlas dari sini.
***
Bulan ini aku benar-benar defisit. Biaya kuliah yang semakin membengkak membuatku harus berpikir lebih untuk bisa menyambung hidup. Honor menulis yang tak seberapa dan ditambah gaji sebagai instruktur privat harus kuatur agar bisa mencukupi hidup. Uang kiriman orang tua tak bisa selalu kuandalkan. Harus sering puasa juga untuk menekan pengeluaran.
Ditambah sekarang aku harus mengeluarkan uang lebih untuk donasi orang-orang.
Tidak, aku menepis pikiran jelek yang baru saja melintas. Aku harus ikhlas, tidak boleh mengungkit hal itu.
Sekarang yang terpenting adalah segera menyelesaikan cerpen yang akan kuikutkan untuk lomba cerpen Solopos. Tak ada target dalam mengikuti lomba ini. Sungguh tak ada. Hanya untuk membunuh waktu dan meramaikan lomba. Aku ingat kata-kata pak Yudhi Herwibowo, optimis perlu, tapi jangan berekspetasi berlebihan.
Tulis, kirim, lupakan. Itu saja.
Aku hampir mendekati ending cerita ketika seorang kakak tingkatku menghampiri. Aku mengetik cerpenku di halaman audit kampus. Tentu saja dia mudah menemuiku. Ada apa ya? sepertinya ada hal penting yang ingin dia bicarakan.
Setelah berbasa-basi sebentar, akhirnya dia menyampaikan maksudnya.
“Ehm, maaf, sebenarnya aku ke sini mau pinjem uang sama kamu Dream. Kalau aku nggak bayar kost bulan ini, aku mau diusir sama ibu kostku. Aku mau pinjem Rp. 300.000,00 gitu lah. Piye? Ana ora?2,” katanya lirih.
Aku kehilangan selera menulis lagi. Pinjam uang? Oh aku sendiri juga tak begitu punya, apalagi ditambah biaya untuk lomba cerpen, ngeprint, ngeburn, kirim ke post. Apa aku harus meminjaaminya? SPPku juga belum dibayar? Bagaimana kalau dia susah ditagih?
“Rong atus ewu ae yo mas. Aja suwe-suwe mbalike, aku yo ra due duit3,”
Entah apa yang merasukiku. Aku meminjaminya uang.
***
Hari pertama masuk kuliah. Belum ada greget sama sekali. Penjelasan dosen hanya kudengarkan sambil lalu. Masalah ekonomi keluarga masih membayangi pikiranku. Aku belum bayar SPP. Penangguhan pembayaran yang diberikan universitas  akan berakhir minggu ini. Aku harus mendapat uang untuk membayar SPP.
Tapi dari mana?
Drrtt..drrtt..
Ada yang bergetar di saku rokku. Sms masuk. Dari kang Nassirun, mentor menulisku di FLP. Ada apa ya? tumben sekali beliau sms.
Selamat ya semoga semangat!
Aku masih bingung, tak tahu apa maksudnya. Belum sempat kubalas sms-nya. Sebuah sms lain masuk. Dari Mas Wildan, anak FLP UNS.
Asem kowe. Pokok’e traktiran lho!
Aku semakin bingung. Ada apa ya? sms ketiga pun masuk. Dari Aisyah, teman curhatku.
Wah nduk, akhire u iso byr SPP. Gusti ora sare4. Bc solopos hr ni ya. hlmn trkhr.
Aku semakin tak mengerti. Aku belum bisa mencerna apa maksud sms-sms itu. Bingung dengan pemikiranku sendiri, sementara Bu Rini masih asik menyampaikan ceramah yang satu kalimat pun tak kudengarkan.
***

Catatan:
1.    Tuhan nggak tidur
2.     Gimana, ada nggak?
3.    Dua ratus ribu saja ya? jangan lama-lama balikinnya, aku juga nggak punya uang
4.    Wah Nduk, akhirnya kamu bisa bayar SPP. Tuhan nggak tidur.










0 komentar: