PADA HELAI KAMBOJA, Cerpen Antologi Joglo

09.23 Impian Nopitasari 0 Comments


Aku melihatnya lagi.
Semburat jingga di ufuk barat sore ini terlihat sangat terang. Benar-benar eksotis. Lukisan alam karya Sang Seniman Maha Agung.
Lukisan senja di kanvas langit sore.
Senja ini masih sama dengan senja-senja kemarin. Senja-senja yang pernah kita nikmati bersama. Mengaguminya, mengandai-andaikannya. Senja yang selalu membuat kita termenung, membuat kita terdiam sejenak.
Sejenak, hanya sejenak.          
Juga sejenak hari ini yang masih ditemani senja. Masih ditemani angin sore yang membelai daun-daun pakis, rumpu-rumput liar, bunga palem dan menggugurkan daun-daun kamboja.
Dalam helai kamboja, aku melihat dirimu.
*
Aku belum mengenalnya.
Kuyakinkan diriku sendiri untuk menerima pernyataan itu. Walau sebenarnya ada keinginan  untuk menyangkalnya.
Tapi aku tak bisa.
Sejak pertama kali bertemu dengannya, aku  tahu dia berbeda. Dia punya sesuatu yang kucari selama ini. Sesuatu yang bahkan aku sendiri tak yakin lagi akan menemukannya. Dia punya sesuatu yang sudah kulupakan. Dia adalah pemilik warnaku yang hilang.
Warna surga yang telah usang.
Angin malam mulai masuk ke celah dinding kamarku. Perlahan-lahan meminta perhatian dengan menghembuskan semilirnya. Dua ekor cicak asik berkejar-kejaran. Terlihat sangat akrab dan mesra. Tak peduli dengan diriku yang sedang menontonnya.
Bahkan aku iri dengan dua ekor cicak!
*
“Kau tahu, jika kau sudah mencintai sesuatu, kau akan menyimpannya dan tak akan ada orang satu pun yang bisa mengambilnya!” katanya padaku.
Udara bergolak.
Aku yang dari tadi sibuk mengaduk-aduk es teh berhenti seketika. Raut mukaku berubah seperti es teh yang kuaduk-aduk. Kipas angin di atasku masih berputar kencang. Mungkin ingin meredakan kepalaku yang mulai panas. Saking kencangnya hingga menerbangkan kertas-kertas tugas di atas mejaku.
“Bahkan aku tak diijinkan mengambilnya mas? Sungguh tak ada kesempatan sekali pun untukku?” kataku dengan raut muka kecewa.
“Maafin mas ya, kau sahabatku, tapi aku cinta dia. Walau dia tak pernah menganggapku sama sekali,” katanya datar.
Mataku seperti berenang dalam kubangan air. Tangis ini kutahan sekuat tenaga. Mendengar kata-katanya tadi sungguh membuatku gemas. Seharusnya dia tahu bagaimana rasanya tak dianggap. Ingin rasanya kutumpahkan es teh ini ke wajahnya.
Aku dekat dengannya. Tapi aku belum mengenalnya.
*
Sekedar  tahu siapa dia pun sulit, apalagi mengenalnya.
Dia berhasil menciptakan sekat yang tebal dan kokoh. Dia bangun sekat itu setinggi mungkin dengan duri-duri yang akan menusuk jika nekat memanjatnya. Sekat yang tak memungkinkan diriku untuk melihatnya.
Membiarkan diriku hanya bisa selalu menerka-nerka.
Jika kau memang ingin menciptakan sekat , buatlah. Aku mengerti kau tak ingin diriku masuk dalam kehidupanmu terlalu dalam. Tapi tolong, jangan kau ciptakan sekat dengan dinding tebal dan duri pengaman. Ciptakanlah sekat dari kaca, agar aku tetap bisa melihatmu walau tak kan bisa menggapaimu.
Agar bisa melihatmu dan mengerti siapa sebenarnya dirimu.
Cukup hanya bisa memahamimu tanpa harus masuk dalam kehidupanmu.
Sungguh benar-benar sulit mengenal siapa dirimu.
*

PARANGTRITIS, 28 NOVEMBER 2010
Deburan ombak bergema begitu keras. Gelombangnya bergulung-gulung menghantam barisan karang yang berdiri kokoh. Karang-karang hitam itu diam saja dihantam sang ombak. Keangkuhannya tak mengalahkan sang ombak untuk selalu menghantamnya.
Aku berjalan menapaki pasir hitam yang terhampar bak permadani alam yang indah. Butiran-butiran kecil yang menempel di kakiku membuatku tergoda untuk memainkannya. Membuatku duduk sendiri di tengah keramaian.
“Kok duduk di sini sendiri, ndak main sama temen-temen?” tanyanya padaku.
Ucapannya yang tiba-tiba sontak membuat aku tersadar dari lamunan.
“Emm.. aku nggak suka pantai mas. Aku benci jika harus berbasah-basah seperti mereka,” kataku padanya tanpa berani menatap wajahnya. Teman-temanku yang sedang bermain di tepi pantai menjadi pelarianku.
“Kenapa ndak suka? Mas dulu juga ndak suka pantai. Tapi sekarang jadi suka,” jelasnya padaku.
“Kok bisa? Apa yang membuat mas suka?” tanyaku dengan penasaran.
Dia tak segera merespon pertanyaanku tetapi malah mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Benda kecil berwarna hitam. Seperti besi.
“Lihat ini ya,” katanya sambil memeperlihatkan benda itu kepadaku “ini namanya magnet pasir, ketika mas taruh magnet ini diatas pasir, semua pasir menempel padanya. Kalau boleh memilih pasir itu tak ingin menempel pada magnet ini. Tapi, magnet ini yang membuatnya tertarik.”
“Aku nggak ngerti mas?” kukatakan hal itu dengan kening berkerut.
“Pasir itu adalah mas dan magnet itu adalah pantai. Ada suatu hal yang membuat mas tertarik pada pantai,” katanya sambil tersenyum.
“Sesuatu itu adalah senja.”
*
Kau begitu menyukai senja.
Dulu aku tak mengerti mengapa kau begitu menyukai fenomena alam pergantian siang dan malam itu. Senja bagiku tak lebih dari rutinitas alam harian yang tak perlu dikagumi. Tapi senja mempunyai arti tersendiri di sudut hatimu.
Senja, sebegitu indah kah dia bagimu?
“Ada nuansa magis ketika kau melihat senja. Tak sekedar siluet-siluet mega yang terbiaskan oleh cahaya matahari yang mulai tenggelam. Senja, saat itulah para malaikat membawa doa para hamba menuju arsy,” jelasmu padaku.
“Begitu ya? apakah para malaikat itu juga membawa doaku?” tanyaku dengan heran.
“Para malaikat membawa setiap doa anak manusia untuk disampaikan pada Sang Pemilik Senja. Termasuk doamu,” kau tersenyum mengatakannya.
Duhai malaikat, bawalah doaku pada-Nya. Bawalah untaian Rabithah ini ke Arsy-Nya. Bawalah segenap kekagumanku pada-Nya. Kekagumanku dengan ciptaanNya yang sangat mengagumi senja.
*
Aku hanya mengingat senja ketika kelopak kambojaku merekah. Aku selalu berharap hatiku bisa merekah seperti kamboja.
Seperti senja sore itu, di tepi danau Salsabila.
Danau Salsabila, sebuah danau di dalam komplek kampus UMS menawarkan suasana tersendiri untuk menikmati senja. Lambaian daun teratai dan kecipak air oleh ikan mas, mujair dan lele semakin menambah eksotis. Burung-burung sendari beterbangan di atas danau. Bercengkrama dan berkejar-kejaran, kadang malu-malu menenggelamkan kakinya ke dalam air dengan cepat, lalu terbang lagi.
Sore itu, senja diwarnai gelapnya mendung.
Kau masih duduk di sampingku. Diam. Dan hanya terdiam. Ada sesuatu yang ingin kau sampaikan. Tapi tak kuasa untuk mengatakannya. Bahkan aku tak sanggup melihat raut wajahmu.
“Nay, mas mau pulang ke Medan. Doakan mas ya Nay,” katamu lirih.
Angin berhembus membelai tubuhku. Rintik hujan mulai turun. Tapi aku tak peduli.
Aku masih memegang kambojaku dengan erat. Kamboja yang ingin kutanam di tepi danau. Tapi urung kulakukan karena mendengar berita darimu.
“Secepat itu kah mas? Kenapa tak tinggal di sini untuk beberapa waktu?,” kataku memohon.
“Mas sudah janji sama mamak dan bapak mas untuk segera pulang setelah menyelesaikan studi, tapi mas ndak akan pernah melupakan Solo Nay, melupakan Nay, sahabat terbaik yang pernah mas kenal. Maafkan mas atas segala salah dan khilaf yang mas lakuin sama Nay,” jelasmu padaku.
“Mas..Mas Nazrul..,” isakku “aku tahu, aku nggak akan pernah bisa memekarkan kelopak kamboja di hati mas. Jangankan mekar, menumbuhkannya pun sulit. Aku tahu kelopak kamboja itu bukan milikku. Tapi untuk saat ini, kumohon bawalah pohon kamboja ini ke rumahmu mas. Bawalah ini ke tanah seberang. Rawatlah ia sebagai pengingat bahwa mas pernah punya seorang sahabat bernama Rinai,”
Aku urung menanam kambojaku bersamanya. Kuberikan kamboja itu padanya.
Aku tak sanggup melihatnya lagi.
Duhai Rinai, tak reda juga raut cemberutmu. Nikmati saja cuaca hari ini.
Sebentar lagi mendung berwajah pelangi.

*
Hari ini, kulihat senja semakin murung.
Aku teringat dengan kamboja yang kau bawa pulang ke tanah seberang. Akankah helai-helai kamboja yang kulepas bersamamu akan tumbuh kelopak-kelopak kamboja baru? Kelopak-kelopak kamboja yang merekah penuh warna? Atau malah layu sebelum terkembang?
Dalam helai kamboja, aku melihat dirimu.
Meskipun aku tahu kau akan memberikan kelopak-kelopak kamboja itu pada orang lain. Tapi tak mengapa bagiku karena aku hanya menitipkan cintaku pada helai-helai daun kamboja. Biarlah helai-helai itu yang memberi nafas kehidupan untuk kelopak-kelopak kamboja yang merekah di hatimu.
Sampai helai-helai daun itu gugur dari batangnya.
Kutitipkan salamku pada helai kamboja untukmu. Karena saat ini hanya satu yang aku rasakan.
Rindu.
***











You Might Also Like

0 komentar: