Curhatan Mbuh

08.00 Impian Nopitasari 3 Comments


Terkadang apa yang kita harapkan tidak sesuai kenyataan, begitu pula sebaliknya apa yang tidak terlalu kita harapkan malah sering memberi kita kejutan. Ya aku mengalaminya berkali-kali dalam kejadian yang berbeda.
Kalau untuk penulisan sendiri biasanya berhubungan dengan naskah. Terkadang aku terlalu PD dalam menilai naskah sendiri. Dalam hati berkata, ah ceritaku bagus, pasti dimuat. Tapi kenyataannya malah penolakan yang aku dapatkan. Sebaliknya, naskah yang aku sendiri sepet membacanya, malah dimuat.
Masa SMA menjadi masa yang penuh dengan experimen menulis. Dulu aku sering banget kirim tulisan ke majalah Teen. Apa saja, mulai dari you’ve got mail (semacam surat pembaca) komentar tentang curhatan Teenholics sampai cerpen. Yang paling aku ingat dulu adalah ketika mengirim satu cerpen bertema anak SMA, ceritanya ya berasal dari pengalaman teman sehari-hari selama sekolah. Seingatku sudah 7 bulan aku mengirimkan cerpen itu. Ah pasti nggak dimuat deh, sudah selama itu, pikirku. FYI, waktu itu aku nggak ngerti standar lamanya naskah dimuat atau tidak. Suatu sore sepulang sekolah aku dikagetkan dering hape bapak, ada telefon, nomor Jakarta. Waduh siapa ya?
Ow ow ternyata itu adalah telefon dari sekred majalah Teen yang mengabarkan bahwa naskahku akan dimuat dua minggu lagi. Kalau saat itu sudah ada tren koprol mungkin aku sudah koprol. Waktu itu honornya Rp. 150.000 dipotong pajak jadinya 145 sekian. Langsung saja kubelikan dua novel KCB yang waktu itu sedang tren. Senangnya.
Pengalaman yang tak kalah seru aku dapatkan sewaktu kuliah. Waktu itu aku mengirim beberapa cerpen ke Annida Online, dan semuanya…. ditolak. Wakakak. Komentarnya ada yang terlalu banyak dialog, ending tidak logis, konflik kurang kuat. Ah pokoknya banyak sekali catatannya. Ya sudah karena mutung, ada cerpen yang kubuang ke tempat sampah. Tak lama kemudian aku dapat kabar kalau Solopos mengadakan lomba cerpen. Sekali lagi iseng, cerpen print out yang sudah kubuang ke tempat sampah aku ambil kembali. Aku kirim ke Solopos, sama sekali tak ada niatan untuk menang. Pengumuman pemenang kapan, aku pun  tak tahu. Ora nggagas.
Kejutan datang, seorang senior menulis mengabariku kalau cerpenku berhasil menjadi juara 1 lomba cerpen Solopos. Haa? Ciyus? Enelan? Selama jam kuliah aku nggak konsen. Segera setelah jam kuliah selesai aku bergegas ke lapak Pak Heru di dekat jembatan. Tanpa ba-bi-bu aku ambil satu koran Solopos, kulihat halaman paling belakang.
Juara 1, Impian Nopitasari. Judul Cerpen: Tarawih Siang. Di bawah tulisan itu tertera nominal Rp. 2.000.000. Dua juta? Huaa bermimpi jadi juara 3 pun aku tak pernah. Ini malah juara 1. Wah ini sih bisa untuk bayar SPP atau beli kamera saku. Aku langsung sujud syukur. Kalau saja cerpenku dimuat Annida aku hanya dapat Rp. 50.000 aja lho. Ini malah 40x lipatnya.
*note: semua cerpen yang ditolak Annida akhirnya menemukan jodohnya masing-masing di media atau antologi yang bergengsi.
Tentang Media Bahasa Jawa
Aku mulai tertarik menulis bahasa Jawa karena aku sering membeli majalah itu rutin sebagai upeti untuk bapak kalau pulang ke rumah. Sebenarnya aku sudah mengenal majalah itu sejak SMP, hanya aku tak rutin membeli. Keinginan menulis pun belum ada.
Tulisan pertamaku yang dimuat di majalah PS itu berwujud geguritan. Wah aku senang sekali waktu itu memamerkan hasil karyaku. Soalnya jarang kan yang bisa menulis seperti itu di sekitarku. Norak? Bodo.
Tulisan kedua yang dimuat adalah Roman Remaja (Manja). Aku mulai tertarik menulis manja karena sering melihat karya dari Gayuh R. Saputro. Aku ini fans setianya lho. Hehe piss Mas, ngefans kan gak dilarang to? Setelah manja pertama dimuat aku mulai sering mengirim manja manja lainnya. Alhamdulillah satu persatu dimuat.
Karena ingin mencoba hal baru, aku iseng mengirim tulisan di JB. FYI, aku belum akrab dengan majalah ini. Beli pun belum pernah. Aku hanya lihat majalah ini di lapak pak Heru dan melihat alamat email. Satu karya aku kirim ke majalah itu, tanpa tahu segmen penulisannya, ketentuan karakter, dsb. Nekat? Iya, bego banget? biarin.
Kalau tidak salah sebulan kemudian ada telefon dari Bu Wuwuh, redaksi JB mengabarkan bahwa ceritaku di muat di rubrik taman putra. Aku jadi ngeh kemudian bahwa taman putra itu ya seperti Wacan Bocah di PS. Lah padahal aku nggak merasa itu cerita anak-anak lho, ciyusss… baca saja ceritaku yang berjudul “Kadho Spesial”.
Karena masih ada rona-rona bahagia pasca pemuatan tulisan pertamaku di JB, aku kembali mengirimkan satu cerita. Cerita tentang konflik keluarga dan cinta tak sampai. Satu hari kemudian ada telefon dari redaksi JB lagi. Kali ini bukan Bu Wuwuh.
“Impian Nopitasari ya? iku jeneng asli ora nduk? Ceritamu apik, aku seneng. Tulisane ora akeh sing salah. Isih kuliah awakmu? Asline ngendi? Ceritamu iki bakal dakpacak, entenana wae ya,”
Haduh aku serasa diwawancara, apa aku mau dijadikan menantu ya? Jiaa.. ngarep banget. aku hanya bisa bilang “Nggih.. nggih Pak,”
“Ora Pak, celukana aku Mbah ya,”
“Oh.. Nggih Mbah, matur nuwun,”
Horee.. ceritaku bakal dimuat lagi. Aku bersyukur akhirnya sedikit demi sedikit bisa membuktikan pada orang-orang yang dulu sering meremehkanku. Aku ini bisa!
Pengalaman menyenangkan juga aku dapatkan ketika geguritanku dimuat Solopos dan berdampingan dengan “Becak” nya mas Zuly Kristanto. Itu pun aku dapat kabar dari Pak Heru, my updater. Haha. Wah saat itu aku sadar bahwa aku juga sudah familiar dengan nama Zuly Kristanto. Sudah sering aku melihat namanya. Iseng saja aku cari di FB dan ketemu. Haha aku kasih tahu saja kalau cerkaknya dimuat lho. Ternyata masnya asik juga. Syukurlah, kirain jutek. Hehehe. Senang memang menjapat teman baru. Kejutan datang lagi, tak lama kemudian ada friend request dari seorang bernama Risdian Gayuh Sn. Kok nggak asing ya? woalah aku sadar ini adalah orang yang dulu kucari di FB tapi tak ketemu, eh kok sekarang aku di-add sendiri. Gayuh R. Saputro, iya orang yang kufans karyanya, dan ternyata mas Zuly Kristanto dan Gayuh R. Saputro ini teman sekamar. Gubraakk… dua orang yang kufans ternyata kanca raket.
*aku ngefans karyanya lho ya, santai saja Mas :)
Ah ternyata menyenangkan juga dunia menulis bahasa Jawa ini. Selain mendapat pengalaman baru, banyak mendapat teman baru yang gokil-gokil. Eh tapi bukan berarti teman-teman sebelumnya gak gokil-gokil. Ya hanya mereka ini bisa diajak sharing tentang sastra Jawa dan tentunya sering direpotkan dengan kecerewetanku. Dua oknum di atas mungkin yang paling sering aku repotkan. Hehe ngapunten Mas -_-
FYI, sekarang aku malah ketagihan menulis dengan bahasa Jawa. Sekarang malah jarang nyerpen atau nulis short story. huaa..


3 komentar: