PEMULUNG ILMU

09.15 Impian Nopitasari 0 Comments



Tak kuhitung berapa kali kakiku mondar-mandir di ruangan ini. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan 6x3 m yang sesak oleh tumpukan buku dan rak-rak kayu. Mengecek dan mengecek, mencari sesuatu yang absen terlihat di mataku.
Nihil.
“Hilang lagi mbak?” suara gadis kecil mengagetkanku.
Aku mengangguk.
“Lagi,?” tanya gadis itu dengan dahi berkerut.
Aku hanya menjawab dengan helaan nafas dan senyum kecut. Dan itu menambah ekspresi kesalnya.
Dinda, nama gadis kecil itu. Anak asuhku di rumah singgah ini. Dia yang membantuku mengurus taman baca IQRO yang kudirikan setahun yang lalu. Kehilangan koleksi buku sangat memukul perasaannya.
Juga diriku, sebagai pengurus inti di rumah singgah ini.
***
“Kamu jangan ndiemin masalah ini begitu saja dong Va! Harus ada tindakan atau kau mau taman bacamu tinggal almarhum?” bentak mbak Widi, ketua LSM Rumah Singgah Iqro ketika memimpin rapat.
“Aku harus gimana mbak? Apa perlu pasang CCTV?” balasku dengan ketus.
“Sakarepmu lah Va1,”
Mbak Widi sepertinya tak bisa mengendalikan emosinya. Begitu juga aku. Kita memang sering beda pendapat. Tapi entah kenapa masalah ini membuat kita naik darah. Tak mau mengalah, mengandalkan ego masing-masing.
Aku ingin keluar mencari angin segar.
Beberapa hari ini taman baca yang kuasuh digegerkan dengan hilangnya beberapa koleksi buku. Tentu ini masalah yang besar untuk perpus mini yang koleksi bukunya tak seberapa. Aku tak bisa mengira-ngira siapa pelakunya. Setiap hari taman bacaku penuh dengan anak-anak jalanan yang mampir untuk membaca.
Apa aku tega mencurigai mereka? mereka mau mampir saja aku sudah senang.
***
Hari ini aku ingin berburu buku bacaan lagi. Walau tak bisa mengganti koleksi yang hilang, setidaknya ini menjadi obat kehilangan. Kulangkahkan kakiku menuju pasar buku Sriwedari, pusat buku murah di Solo.
Semoga ada buku murah dan bagus yang bisa kubeli.
Kakiku melangkah menyusuri gang sebelah barat Sriwedari, menuju Bu Sri2. Menendang-nendang kerikil sebagai uangkapan rasa kesalku. Matahari galak menyengat, sepertinya dia tahu apa yang kurasa. Udara bergolak, semakin menambah dramatisasi suasana hatiku.
Langkah kakiku tiba-tiba tersendat. Mataku menangkap pemandangan yang membuatku enggan melangkah. Seorang anak laki-laki kecil berseragam merah putih bersandar di gerobak sampah.
Bersandar sambil membaca buku!
Naluriku sebagai pengasuh anak-anak jalanan membawa diriku untuk berjalan mendekati anak itu. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya ia kerjakan di dekat tempat bau seperti ini. Bersebelahan dengan gerobak yang penuh dengan sampah bukanlah tempat yang ideal untuk membaca buku.
“Lagi baca apa dek?” tanyaku pada anak itu.
Ia tak segera menjawab pertayaanku. Raut keheranan nampak di wajahnya. Aku baru sadar aku ini orang asing yang tiba-tiba bertanya. Pantas saja ia sedikit takut.
“Hmm.. ndak baca apa-apa mbak, ini lagi ngerjain PR Matematika,” jawabnya dengan terbata-bata.
Cepat-cepat ia menutup dan menyembunyikan buku yang ia baca ke dalam tas. Dengan cepat dikeluarkan buku tulis dan pensil dari tasnya. Bergegas mengerjakan tugasnya.
Kenapa harus takut seperti itu? Apa yang salah dengan buku bacaannya?
“Arif, PRnya sudah rampung le?” suara pria setengah baya mengagetkanku.
Di sampingku sudah berdiri bapak-bapak. Usianya sekitar empat puluhan. Memanggul karung berisi sampah dan memegang besi bengkong. Dari penampilannya aku bisa menebak apa pekerjaannya. Memungut sampah. Seorang pemulung.
Ngapunten, Maaf pak, tadi saya kebetulan lewat, terus lihat adik ini sedang baca buku. Saya ingin tahu saja pak. Hebat, masih mau membaca buku di tempat seperti ini,” kataku pada bapak itu dengan gugup.
“Iya mbak, ndak apa-apa. Dia anak saya, namanya Arif. Suka sekali membaca dan pintar mencari buku-buku bekas yang dibuang. Saya hanya bisa mulung mbak, ndak bisa ngasih buku bagus yang lebih. Walau saya pemulung tapi saya tak ingin anak saya bodoh seperti bapaknya,” kata bapak itu menjelaskan sambil duduk melepas lelah.
“Oh ya, perkenalkan, saya Eva pak. Pengurus rumah singgah Iqro,” kataku memperkenalkan diri “kami menerima anak-anak jalanan, pengamen, anak terlantar dan lainnya untuk dibimbing. Di sana juga ada perpus kecil. Saya senang sekali kalau Arif bisa kesana. Jadi ndak perlu mulung buku-buku bekas lagi. Gimana Arif? Mau kan?,”
 Terlihat raut senang di wajah Arif, ia menoleh ke wajah ayahnya, meminta persetujuan. Sang ayah mengangguk.
***
Aku merasa lelah karena seharian mengurus rumah singgah. Mbak Widi sedang mengunjungi orang tuanya di Semarang jadi otomatis diriku sendirian mengurus rumah singgah dan taman baca.
Aku membaca arsip-arsip kejadian di buku kerja. Dua bulan terakhir merupakan hari-hari berat bagiku. Mulai dari kehilangan anak binaanku yang menjadi korban tabrak lari sewaktu mengamen, ada yang ditangkap polisi karena dituduh mengganggu ketertiban umum, sampai kasus hilangnya buku-buku di taman baca.
Apalagi para “boss” anak-anak yang menjadi binaanku sering melakukan teror. Mereka memang tidak suka dengan adanya rumah singgah seperti ini. Mesin uang mereka terhenti karena aku “merebut” mereka. Bukan perkara yang gampang memang mengalihkan pekerjaan anak-anak dari mencopet, mengemis untuk mau bersekolah dan menyalurkan bakat positif mereka di rumah singgah.
Tidak mudah menghadapi semua ini.
Untunglah keceriaan anak-anak itu menjadi obat kegelisahanku selama ini. Apalagi jika melihat semangat mereka yang tinggi untuk menimba ilmu di tengah kesulitan hidup yang semakin sulit saja. Orang tua yang tak terlalu mendukung juga menjadi tantangan tersendiri bagi mereka dan bagiku sebagai pembina.
Aku harus selalu memberi semangat hidup bagi mereka.
Beruntung sekarang aku punya Arif, anak yang kutemui di gang barat Sriwedari dulu. Dia bersama Dinda menjadi penghuni favorit taman baca. Tak banyak orang tua seperti bapaknya Arif mengizinkan anaknya kesini. Biasanya mereka menuntut untuk selalu bekerja.
Berada di rumah singgah hanya membuang waktu dan kesempatan mendapat uang.
Arif anak yang cerdas, setengah dari koleksi buku sudah ia baca. Ia memang pembaca cepat dan pemilik rasa ingin tahu yang tinggi. Pagi sampai sore ia sekolah dan membantu memulung sampah. Malamnya, ia menjadi penghuni tetap taman baca.
Aku sering menemaninya belajar bersama Dinda.
***
“Mbak Eva, cepetan kesini Mbak,” teriak Dinda padaku.
“Emang ada apa to?” tanyaku heran.
Dinda menunjukkan sesuatu padaku. Satu kardus yang diletakkan di depan pintu. Pikiran macam-macam memenuhi otakku. Jangan-jangan ini bom? Segera kutepis pikiran buruk itu. Dinda menyodorkan amplop yang berada di atas kardus itu. Ternyata surat.
Kepada: Mbak Eva yang baik hati.
Terimakasih sudah menjadi lentera di tengah kegelapan hidup saya. Saya hanya ingin minta maaf. Selama ini saya yang diam-diam mengendap-endap di malam hari untuk “meminjam” buku dari taman baca sebelum mbak bertemu dengan saya di Sriwedari dulu. Saya sadar cara saya salah. Saya nggak mau jadi pencuri ilmu Mbak, biarlah saya memulung ilmu di sini. Ijinkan saya menjadi pemulung ilmu. Buku-buku ini saya kembalikan. Saya tahu, kehilangan buku adalah beban buat Mbak. Sungguh, maafkan adikmu yang kurang ajar dan tak tahu diuntung ini.
Arif.
Ya Allah, ternyata selama ini Arif yang mencuri buku-buku di taman baca. Butir-butir bening jatuh dari kelopak mataku. Aku tak marah denganmu, aku menghargai kejujuran dan keberanianmu.
Kembalilah Arif, segudang ilmu menungggumu.
***
Catatan:
1.      Terserah kamu deh Va.
2.      Bu Sri, singkatan dari mBUri SRIwedari (Belakang Sriwedari), nama familiar untuk menyebut pasar buku murah di belakang Taman Budaya Sriwedari, Solo.



You Might Also Like

0 komentar: