Looking For Mr. Right. Cerpen Nominasi Lomba Cerpen Islami Ilmanafia

03.44 Impian Nopitasari 1 Comments


Ndak,” kata itu lagi yang terucap.
Gelengan kepala ibuku semakin mempertegas ucapannya bahwa ia tak sedang main-main. Aku tak tahu kapan ia mau berkata “Iya” untuk hal ini. Hatiku semakin kebas dibuatnya. Sebenarnya apa sih mau ibuku.
“Kenapa bu’e ndak mau? Mas Toro orangnya kan baik bu, agamanya insya Allah juga baik,” aku mencoba berpendapat.
Nek bu’e bilang ndak yo ndak. Ora usah ngeyel,” gertak bu’e.
“Tapi kan harus jelas alasannya to bu’e. kenapa bu’e menolaknya?” sanggahku.
“Dia ndak sekelas dengan kita. Bu’e ndak mau. Wis pokoke manuta bu’e,” kata bu’e, memaksa.
Oalah, ternyata itu alasannya, bu’e nggak mau aku menikah dengan orang yang tak selevel. Urusan bibit, bebet dan  bobot  memang bukan perkara sepele bagi bu’e. Sudah berapa laki-laki yang mencoba mendekatiku, tapi ditolak oleh bu’e. Ya karena itu, nggak selevel. Sebenarnya level seperti apa yang diinginkan bu’e aku pun tak paham. Aku hanya bisa sendiko dhawuh tanpa bisa menolaknya.
Kadang aku berpikir, kenapa aku tak bisa memilih laki-laki sebagai pendampingku sendiri. Kukira normal saja jika aku merasa kesepian. 28 tahun, bagi orang-orang di desaku umurku sudah telat untuk menikah. Teman-temanku rata-rata sudah punya dua anak. Dan aku masih sendiri.
Perawan tua, kata mereka.
Perawan tua? Hei, siapa yang mau menjadi perawan tua? Aku pun juga tak mau. Aku juga ingin punya keluarga. Sakit hati rasanya bila aku dibilang terlalu pemilih dalam menentukan calon suami. Andai mereka tahu, aku sama sekali tak ribet dengan urusan ini. yang pemilih itu orang tuaku, bukan aku.
Sama sekali bukan aku.
Memang dulu aku punya standar khusus dalam memilih calon suami. Wajar lah sebagai orang yang ingin memilih pasangan pasti punya kriteria khusus. Tapi sekarang aku sudah tak peduli dengan semua itu. Apapun yang kupilih selalu tak sreg di hati orang tuaku. Padahal aku sudah menurunkan standar calon suamiku. Sayangnya aku bukan orang yang berani melawan kehendak orang tua. Takut kualat, takut nanti nggak berkah. Jadi aku selalu menurut saja apa kata orang tuaku.
Selama itu baik, aku akan menurut.
***
“Din, kapan kowe nikah?”
Ah, selalu pertanyaan itu yang dillontarkan padaku. Sampai bosan aku mendengarnya. Aku ke sini kan mencari suasana baru. Eh ternyata tak jauh beda dengan yang di rumah.
“Kapan-kapan kalau jodohku sudah nggak gelap,” jawabku
“Gelap piye to? Wong yang nglamar kamu itu sudah gak keitung lho. Pilih satu saja kok susah,”
Ah si Tanti ini selalu menggampangkan masalah. Bukan karena aku nggak mau milih. Nggak tahu saja masalahku. Dia enak, jodoh gampang, orang tua juga gak ruwet, sekarang sudah punya anak satu. Enak bener hidupmu Tan. Beda dengan aku.
“Aku ndak jadi nginep ah, diceramahin mulu,” kataku padanya.
“Eh, aja ngono to ya. Kita ini teman satu kamar semasa mondok dulu, susah senang ditanggung bersama. Ayo, nginep ya. sekalian nemenin Alya main. Mas Faiz pulang telat. Jadi temenin aku ya?” bujuknya.
Aku mengangguk. Kangen juga masa-masa di pondok dulu dengan Tanti.
Aku menemaninya masak, momong Alya juga. Ah nyesek juga kalau lihat yang begini. Kapan ya aku punya momongan. Halah ngawur, suami aja belum jelas mau punya anak. Mungkin memang aku belum waktunya berumah tangga, suruh belajar dulu.
Aku masih harus belajar untuk jadi istri dan ibu yang baik.
***
Kabarnya hari ini ada yang mau melamarku lagi. Kabarnya? Ya memang aku sudah tidak terlalu memperhatikannya. Ada yang melamar ya Alhamdulillah, tidak juga harus lebih bersabar. Sudah kubilang tadi, aku sudah kebas  untuk masalah ini.
Tapi sepertinya memang ada yang mau melamarku, buktinya orang rumah kelihatan repot sekali. Aku yang seharusnya lebih repot malah santai-santai saja. Ah biarlah.
“Ealah nduk.., kok kamu belum siap-siap, ayo cepat, tamunya sudah datang. Kamu ini lho, susah banget dibilangin,” seperti biasa, ibu gemar ngomel-ngomel.
Dengan malas-malasan aku beranjak dari kasur, dandan sepantasnya demi menyenangkan ibu. Aku kehilangan rasa deg-degan layaknya seorang gadis yang akan dilamar seorang pemuda. Sudah berkali-kali seperti ini, ujung-ujungnya juga sama, penolakan.
Hal ini juga yang selalu membuatku bertanya-tanya. Orang tuaku itu agamanya bagus, anaknya saja dipondokkan. Kenapa jodoh anak perempuannya ini malah dipersulit?  Si itu nggak selevel lah, si ini kurang manteb agamanya lah, yang sini nggak satu suku lah, yang sono kurang meyakinkan lah.
Coba kita lihat, seperti apa penilaian orang tuaku terhadap pelamarku ini.
“Ayo nduk, cepat, kamu itu, ganti baju suwene pol,” ibu menggeret tanganku. Aku menurut saja. Seperti biasa.
“Nah, ini anak kami. Andini.” Bapak memperkenalkanku pada keluarga lelaki di hadapanku itu.
“Nazrul,” katanya sopan, sambil menelungkupkan tangan.
Aku mengangguk malu. Kuberanikan mencuri pandang padanya. Pandangan kami bertemu sekian detik. Kualihkan pandanganku ke wajah ayahku yang sedang berbicara. Aneh, ada yang bergetar di dalam dadaku. Sudah lama aku tidak merasa seperti ini.
Mungkinkah dia jodohku kali ini?
“Jadi, nak Nazrul ini mengajar di mana?,” tanya bapakku.
“Ponpes Nurul Hidayah Pak,”
“Nurul Hidayah?,” terdengar nada tak enak dalam suara bapak. Kenapa lagi ini.
Setelah itu bapak permisi ke belakang, sekalian menyeret aku dan Ibu. Rapat dadakan.
“Kita nggak bisa nerusin proses ini Bu, keluarga kita beda aliran dengan keluarga pak Nazril,”
“Iya, tadi katanya nak Nazrul kan aktivis organisasi yang jelas beda dengan kita,”
“Jadi kesimpulannya?,” tak tahan aku menyela debat orang tuaku ini.
“Maaf Nduk, kita tidak bisa menerima lamaran ini,” jawab mereka serentak.
Ah, sudah kuduga akan seperti ini lagi.
***
Sekarang aku benar-benar malas membicarakan pernikahan. Yang kupikir saat ini adalah melanjutkan hidupku dengan sesuatu yang bermanfaat. Selain mengajar di MTs dan TPA di kampungku, aku mencoba-coba untuk menulis. Banyaknya kegalauan yang kuhadapi ditambah diriku yang introvert semakin membuatku betah menulis.
Tiba-tiba aku dikejutkan dengan kedatangan Alya dan keluarganya ke rumahku. Temanku satu ini memang selalu hadir pasca kegagalanku untuk menikah, yang sudah sekian kali.
“Din, sowan yuk ke pondok, sudah lama ndak ketemu bu Nyai,” ajaknya.
Aku merenung. Benar juga, sudah lama aku tak ke sana. Mungkin sekali-kali aku juga butuh refreshing. Tanpa pikir panjang, aku mengiyakannya.
“Okelah, lumayan dapat tumpangan gratis, hehe,”
Hari itu juga aku ikut Alya sowan ke ndalem bu Nyai. Jadilah aku satu mobil dengan keluarga bahagia ini. Suami Alya ini dulu juga temanku satu angkatan di pondok. Jodoh memang tak jauh dari sana. Kecuali aku, tentunya.
Satu jam perjalanan, kita sudah sampai ke pondok. Aku dan Alya serta si kecil langsung menuju ndalem ngandhap, tempat tinggal bu Nyai serta beberapa santriwati. Mas Faiz berjalan ke arah yang berbeda, di ndalem nginggil, tempat Romo Kiai tinggal. Setelah itu, kita dijamu di ndalem tengah, ruangan semacam aula. Seperti reuni saja.
“Wah, jadi Nak Faiz dan Nak Alya sudah punya momongan satu ya? ndak terasa, dulu kalian masih sama-sama ngaji di sini,”
“Nggih Romo Kiai. Alhamdulillah, semoga menjadi anak yang sholeh, menegakkan agama Allah, mohon doanya Romo Kiai,” jawab Mas Faiz, dijawab dengan anggukan Romo Kiai.
“Ini Nak Andini kan? Santriwati teladan di angakatannya dulu. Mana keluargamu? Kenapa pas nikah ndak ngundang keluarga Pondok?,”
Deg. Pertanyaan yang sama sekali tak kuharapkan. Bingung harus bagaimana menjawabnya. Tapi aku tidak mungkin berbohong pada Romo Kiai.
“Emm.. saya masih sendiri Romo Kiai,” akhirnya kalimat itu terucap juga.
Orang tua di depanku itu terlihat bingung, sampai mengerutkan dahinya.
“Masih sendiri? Serius? Apa lagi yang kau pikirkan Nduk? Temanmu ini sudah punya momongan, kenapa masih sendiri?,”
“ Sepertinya Allah belum menampakkan jodoh saya Romo Kiai,”
***
“Iya,”
Jawaban orang tuaku sungguh membuatku syok. Tak percaya akhirnya mereka menerima lamaran laki-laki di depanku ini. Dia Iqbal, meskipun putra Romo Kiai, tapi jauh dari kesan santri. Kaos oblong, celana jins pucat, jaket kulit. Yang kutahu hobby-nya dulu memutar lagu Bon Jovy, Linkin Park, atau Green Day keras-keras. Sampai terdengar di pondok putri. Meskipun aku mengauminya, aku tak pernah berharap dia jadi suamiku. Paling juga ditolak orang tuaku.
Tapi sekarang?
“Jadi kapan kiranya pernikahan ini diselenggarakan Romo Kiai?,” bapakku bertanya pada kiai sepuh yang sangat diseganinya sejak dulu.
“Lebih cepat lebih baik, segera diresmikan saja. Besok lusa insya Alloh lebih baik,” jawabnya mantab.
“Alhamdulillah, sebentar Romo Kiai, saya ke belakang dulu,” bapak memberi isyarat padaku, aku mengikutinya.
Seperti biasa, rapat dadakan. Sekarang aku yang bengong, tak tahan aku bertanya pada orang tuaku. Apa alasan orang tuaku menerima laki-laki itu. Bukankah jauh sekali dari tipenya? Ke mana bibit bobot bebet itu?
“Jangan menilai orang dari luarnya Nduk. Sebenarnya sebagian kriteria menantu pilihan bapak ada di nak Iqbal, dan sudah lama sekali bapak pengen besanan sama kiai, sudahlah kamu manut saja sama pilihan bapak,”
            Oh jadi sebenarnya orang tuaku dulu ngincernya mas Iqbal. Huh, bilang kek dari dulu. Aku juga tak kan menolak. Kenapa membiarkanku menggalau dengan jodohku yang tak kunjung datang.
            Lamaran kali ini sepi, tak ada keramaian. Tapi akhirnya, aku, Andini Dwita Zahroh, menemukan jodohnya. Jangan lupa datang ya di pernikahanku besok lusa, akan kuceritakan bagaimana mas Iqbal-si cowok misterius-itu sebenarnya. Dia baik dan sholeh kok, kalian jangan khawatir.
            Sudah ya, aku mau menyiapkan hidangan untuk calon keluargaku dulu.

***

You Might Also Like

1 komentar:

  1. Good story, kerennn bngt critanya lho impian..he he.kapan“ baca punya q dunk.

    BalasHapus