EFEK DOMINO MENULIS

08.39 Impian Nopitasari 0 Comments


Menulis bukan hanya tentang urusan coret mencoret saja dan merangkaikan kata saja. Menulis adalah suatu kegiatan yang universal, dan dampaknya juga universal. Apakah benar demikian? Jawabnya benar sekali.
Banyak hal yang saya dapatkan dengan menulis. Kebanggaan karena berhasil menembus media, senang karena bisa memperoleh penghasilan dari honor menulis, bisa mendapat teman-teman baru yang menyenangkan, mendapat pembaca yang setia mengikuti karya-karya kita, bisa travelling, menambah nilai mata kuliah tertentu karena dosen pengampu tersebut suka jika kita produktif menulis dan yang penting mau membeli buku kita dengan harga yang lebih, ups curhat, hehe.
Karena semua hal tersebut tadi saya simpulkan bahwa menulis itu asyik. Menulis itu seperti sekali mendayung, berpulau-pulau terlampaui alias paket komplit. Efek domino yang ditimbulkan dari kegiatan menulis sungguh menakjubkan.
Kebanggaan karena berhasil menembus media ternyata tidak dirasakan oleh saya seorang diri. Orang tua, teman-teman, dosen dan kenalan-kenalan ikut bangga dan mempromosikan tulisan saya, ah betapa senang dan terharunya mendapat marketing gratis. Memang benar, silaturahim mempermudah rizki, dan silaturahim itu bisa dijalin lewat menulis. Writing without boundaries, menulis tanpa batas, maka teman-teman kita pun tanpa batas. Bahkan kebanyakan belum kita temui di dunia nyata, tapi terasa dekat.
Menulis memang asyik, saya banyak mendapatkan teman-teman yang keren, gokil, dan baik hati. Kalau dulu ada sahabat pena, sekarang ada sahabat dunia maya. Karena kepenulisan ini saya tidak ragu untuk berteman dengan teman-teman sesama penulis di dunia maya yang biasanya saya tidak bisa terlalu percaya dengan mereka. Entahlah, menulis mengubah cara pendang saya. Saya pun sekarang punya sahabat yang selalu ringan berbagi atau sekedar menerima curhatan dan memberikan motivasi sewaktu saya benar-benar sedang drop. Dan saya mengenalnya karena kepenulisan.
Saya pun pernah bertemu dengan teman FB saya yang saya kenal lewat majalah remaja. Tulisan fantasinya bagus, kita juga sering diskusi atau sekedar guyon nggak jelas di FB. Tak menyangka ada hal yang mempertemukan kita. Karena dia mengikuti seminar Merry Riana di Solo, kebetulan pas lagi libur juga, bisa menjadi alasan kita untuk kopdar. Senang sekali rasanya bisa bertemu karena ternyata tidak semua orang bisa bertemu dengannya. Kejutannya, dia memberi saya buku hasil lomba antologi yang dia menangkan. Buku itu belum beredar di toko buku dan saya bisa membaca duluan, senangnya… padahal saya tidak pernah berpikir sedikit pun untuk meminta bukunya. Sekalian saja saya minta tanda tangannya. Asyik sekali, that was amazing day.
Menulis membuat saya mengenal senior-senior yang ternyata baik hati dan tidak sombong. Dulu saya sungkan untuk mengenal beliau-beliau karena merasa belum mempunyai karya. Dengan karya saya yang masih sangat minim, saya jadi punya alasan untuk berdiskusi dengan mereka. Ada pak Langit yang selalu membuat motivasi naik, Pak Tandi Skober yang tak bosan-bosannya menyemangati padahal kami belum pernah bertemu, pak Saut Poltak Tambunan yang pernah mengirim saya buku padahal ongkos belum saya bayar, Pak Kaspul Darmawi yang asik banget, Bunda Triani Retno, dan masih banyak lagi. Beliau-beliau ini saya kenal lewat Facebook. Facebook menjadi berguna dan tidak sia-sia jika kita memanfaatkand dengan positif. Salah satunya tentu saja untuk menulis.
Karena menulis banyak hal tak terduga yang kita dapatkan. Seperti tiba-tiba mendapat tiket gratis untuk bertemu di acara  temu penulis se-indonesia di luar kota yang jauh, bisa menyalurkan hobi traveling juga kan. Di sana bisa puas berjumpa dengan teman-teman yang biasanya hanya bisa kita temui di dunia maya, bisa minta tanda tangan mereka, bisa gantian menjual buku kita. Sungguh mengharukan, kekuatan menulis memang sungguh hebat.
Saya sungguh tidak percaya bisa menyalurkan hobi travelling saya dengan menulis. Dulu saya pergi travelling seminggu di tengah kesibukan saya (saya tidak ikut ujian akhir, tapi ikut susulan kok) dan alasan yang bisa membuat saya begitu ya karena kepenulisan. Dosen pun dengan ringan hati mengijinkan saya untuk tidak ikut ujian, alasannya karena demi mengikuti kegiatan menulis. Siapa yang tidak senang mendapat hak khusus seperti itu? Teman-teman pun banyak yang iri karena itu, hehe. Makanya nulis dong.
Menulis juga bisa membanggakan almamater. Senang rasanya bisa menyumbang sertifikat-sertifikat hasil prestasi saya menulis untuk digunakan sebagai bahan akreditasi jurusan tempat saya menuntut ilmu. Ternyata prestasi itu tidak hanya untuk saya pribadi, tapi juga untuk jurusan saya. Senang sekali bisa menjadi manusia yang bermanfaat untuk hal orang lain.
Terkadang di saat saya sedang defisit penghasilan, ada saja rejeki yang datang. Seperti ada dosen yang membeli buku saya dan biasanya dibayar dengan harga lebih, siapa yang tidak senang? Juga sewaktu online, tiba-tiba ada chat yang masuk, menawari untuk menyetorkan satu cerpen untuk dimuat di antologi Joglo, Taman Budaya Jawa Tengah. Wow, speechless sekali waktu itu. Bagaimana tidak, tahun lalu saya hanya sebagai penonton dan tidak terbayangkan sama sekali kalau tahun ini saya sebagai yang ditonton. Tidak pernah membayangkan sebelumnya kalau saya menjadi salah satu kontributor antologi tersebut, karya saya ikut dibedah, bertemu teman-teman baru, bertemu senior menulis, saya dapat honor. Ah benar-benar  bersyukur kepada Alloh yang mengenalkanku dengan dunia keren ini.
Karena menulis jadi banyak teman, karena banyak teman jadi banyak link karena banyak link jadi mudah menyalurkan karya dan mudah mendapat rejeki tentunya. Seperti bulan puasa kemarin saya banyak mendapatkan undangan buka puasa bersama oleh berbagai komunitas menulis yang saya kenal. bisa ngirit, dapat parcel lagi. Sebagai anak kost, hal itu benar-benar sesuatu. Menulislah jika ingin memperlebar jaringan.
Kita tunggu efek domino apa lagi yang akan muncul karena menulis.
***






You Might Also Like

0 komentar: