Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Looking For Mr. Right. Cerpen Nominasi Lomba Cerpen Islami Ilmanafia


“Ndak,” kata itu lagi yang terucap.
Gelengan kepala ibuku semakin mempertegas ucapannya bahwa ia tak sedang main-main. Aku tak tahu kapan ia mau berkata “Iya” untuk hal ini. Hatiku semakin kebas dibuatnya. Sebenarnya apa sih mau ibuku.
“Kenapa bu’e ndak mau? Mas Toro orangnya kan baik bu, agamanya insya Allah juga baik,” aku mencoba berpendapat.
“Nek bu’e bilang ndak yo ndak. Ora usah ngeyel,” gertak bu’e.
“Tapi kan harus jelas alasannya to bu’e. kenapa bu’e menolaknya?” sanggahku.
“Dia ndak sekelas dengan kita. Bu’e ndak mau. Wis pokoke manuta bu’e,” kata bu’e, memaksa.
Oalah, ternyata itu alasannya, bu’e nggak mau aku menikah dengan orang yang tak selevel. Urusan bibit, bebet dan  bobot  memang bukan perkara sepele bagi bu’e. Sudah berapa laki-laki yang mencoba mendekatiku, tapi ditolak oleh bu’e. Ya karena itu, nggak selevel. Sebenarnya level seperti apa yang diinginkan bu’e aku pun tak paham. Aku hanya bisa sendiko dhawuh tanpa bisa menolaknya.
Kadang aku berpikir, kenapa aku tak bisa memilih laki-laki sebagai pendampingku sendiri. Kukira normal saja jika aku merasa kesepian. 28 tahun, bagi orang-orang di desaku umurku sudah telat untuk menikah. Teman-temanku rata-rata sudah punya dua anak. Dan aku masih sendiri.
Perawan tua, kata mereka.
Perawan tua? Hei, siapa yang mau menjadi perawan tua? Aku pun juga tak mau. Aku juga ingin punya keluarga. Sakit hati rasanya bila aku dibilang terlalu pemilih dalam menentukan calon suami. Andai mereka tahu, aku sama sekali tak ribet dengan urusan ini. yang pemilih itu orang tuaku, bukan aku.
Sama sekali bukan aku.
Memang dulu aku punya standar khusus dalam memilih calon suami. Wajar lah sebagai orang yang ingin memilih pasangan pasti punya kriteria khusus. Tapi sekarang aku sudah tak peduli dengan semua itu. Apapun yang kupilih selalu tak sreg di hati orang tuaku. Padahal aku sudah menurunkan standar calon suamiku. Sayangnya aku bukan orang yang berani melawan kehendak orang tua. Takut kualat, takut nanti nggak berkah. Jadi aku selalu menurut saja apa kata orang tuaku.
Selama itu baik, aku akan menurut.
***
“Din, kapan kowe nikah?”
Ah, selalu pertanyaan itu yang dillontarkan padaku. Sampai bosan aku mendengarnya. Aku ke sini kan mencari suasana baru. Eh ternyata tak jauh beda dengan yang di rumah.
“Kapan-kapan kalau jodohku sudah nggak gelap,” jawabku
“Gelap piye to? Wong yang nglamar kamu itu sudah gak keitung lho. Pilih satu saja kok susah,”
Ah si Tanti ini selalu menggampangkan masalah. Bukan karena aku nggak mau milih. Nggak tahu saja masalahku. Dia enak, jodoh gampang, orang tua juga gak ruwet, sekarang sudah punya anak satu. Enak bener hidupmu Tan. Beda dengan aku.
“Aku ndak jadi nginep ah, diceramahin mulu,” kataku padanya.
“Eh, aja ngono to ya. Kita ini teman satu kamar semasa mondok dulu, susah senang ditanggung bersama. Ayo, nginep ya. sekalian nemenin Alya main. Mas Faiz pulang telat. Jadi temenin aku ya?” bujuknya.
Aku mengangguk. Kangen juga masa-masa di pondok dulu dengan Tanti.
Aku menemaninya masak, momong Alya juga. Ah nyesek juga kalau lihat yang begini. Kapan ya aku punya momongan. Halah ngawur, suami aja belum jelas mau punya anak. Mungkin memang aku belum waktunya berumah tangga, suruh belajar dulu.
Aku masih harus belajar untuk jadi istri dan ibu yang baik.
***
Kabarnya hari ini ada yang mau melamarku lagi. Kabarnya? Ya memang aku sudah tidak terlalu memperhatikannya. Ada yang melamar ya Alhamdulillah, tidak juga harus lebih bersabar. Sudah kubilang tadi, aku sudah kebas  untuk masalah ini.
Tapi sepertinya memang ada yang mau melamarku, buktinya orang rumah kelihatan repot sekali. Aku yang seharusnya lebih repot malah santai-santai saja. Ah biarlah.
“Ealah nduk.., kok kamu belum siap-siap, ayo cepat, tamunya sudah datang. Kamu ini lho, susah banget dibilangin,” seperti biasa, ibu gemar ngomel-ngomel.
Dengan malas-malasan aku beranjak dari kasur, dandan sepantasnya demi menyenangkan ibu. Aku kehilangan rasa deg-degan layaknya seorang gadis yang akan dilamar seorang pemuda. Sudah berkali-kali seperti ini, ujung-ujungnya juga sama, penolakan.
Hal ini juga yang selalu membuatku bertanya-tanya. Orang tuaku itu agamanya bagus, anaknya saja dipondokkan. Kenapa jodoh anak perempuannya ini malah dipersulit?  Si itu nggak selevel lah, si ini kurang manteb agamanya lah, yang sini nggak satu suku lah, yang sono kurang meyakinkan lah.
Coba kita lihat, seperti apa penilaian orang tuaku terhadap pelamarku ini.
“Ayo nduk, cepat, kamu itu, ganti baju suwene pol,” ibu menggeret tanganku. Aku menurut saja. Seperti biasa.
“Nah, ini anak kami. Andini.” Bapak memperkenalkanku pada keluarga lelaki di hadapanku itu.
“Nazrul,” katanya sopan, sambil menelungkupkan tangan.
Aku mengangguk malu. Kuberanikan mencuri pandang padanya. Pandangan kami bertemu sekian detik. Kualihkan pandanganku ke wajah ayahku yang sedang berbicara. Aneh, ada yang bergetar di dalam dadaku. Sudah lama aku tidak merasa seperti ini.
Mungkinkah dia jodohku kali ini?
“Jadi, nak Nazrul ini mengajar di mana?,” tanya bapakku.
“Ponpes Nurul Hidayah Pak,”
“Nurul Hidayah?,” terdengar nada tak enak dalam suara bapak. Kenapa lagi ini.
Setelah itu bapak permisi ke belakang, sekalian menyeret aku dan Ibu. Rapat dadakan.
“Kita nggak bisa nerusin proses ini Bu, keluarga kita beda aliran dengan keluarga pak Nazril,”
“Iya, tadi katanya nak Nazrul kan aktivis organisasi yang jelas beda dengan kita,”
“Jadi kesimpulannya?,” tak tahan aku menyela debat orang tuaku ini.
“Maaf Nduk, kita tidak bisa menerima lamaran ini,” jawab mereka serentak.
Ah, sudah kuduga akan seperti ini lagi.
***
Sekarang aku benar-benar malas membicarakan pernikahan. Yang kupikir saat ini adalah melanjutkan hidupku dengan sesuatu yang bermanfaat. Selain mengajar di MTs dan TPA di kampungku, aku mencoba-coba untuk menulis. Banyaknya kegalauan yang kuhadapi ditambah diriku yang introvert semakin membuatku betah menulis.
Tiba-tiba aku dikejutkan dengan kedatangan Alya dan keluarganya ke rumahku. Temanku satu ini memang selalu hadir pasca kegagalanku untuk menikah, yang sudah sekian kali.
“Din, sowan yuk ke pondok, sudah lama ndak ketemu bu Nyai,” ajaknya.
Aku merenung. Benar juga, sudah lama aku tak ke sana. Mungkin sekali-kali aku juga butuh refreshing. Tanpa pikir panjang, aku mengiyakannya.
“Okelah, lumayan dapat tumpangan gratis, hehe,”
Hari itu juga aku ikut Alya sowan ke ndalem bu Nyai. Jadilah aku satu mobil dengan keluarga bahagia ini. Suami Alya ini dulu juga temanku satu angkatan di pondok. Jodoh memang tak jauh dari sana. Kecuali aku, tentunya.
Satu jam perjalanan, kita sudah sampai ke pondok. Aku dan Alya serta si kecil langsung menuju ndalem ngandhap, tempat tinggal bu Nyai serta beberapa santriwati. Mas Faiz berjalan ke arah yang berbeda, di ndalem nginggil, tempat Romo Kiai tinggal. Setelah itu, kita dijamu di ndalem tengah, ruangan semacam aula. Seperti reuni saja.
“Wah, jadi Nak Faiz dan Nak Alya sudah punya momongan satu ya? ndak terasa, dulu kalian masih sama-sama ngaji di sini,”
“Nggih Romo Kiai. Alhamdulillah, semoga menjadi anak yang sholeh, menegakkan agama Allah, mohon doanya Romo Kiai,” jawab Mas Faiz, dijawab dengan anggukan Romo Kiai.
“Ini Nak Andini kan? Santriwati teladan di angakatannya dulu. Mana keluargamu? Kenapa pas nikah ndak ngundang keluarga Pondok?,”
Deg. Pertanyaan yang sama sekali tak kuharapkan. Bingung harus bagaimana menjawabnya. Tapi aku tidak mungkin berbohong pada Romo Kiai.
“Emm.. saya masih sendiri Romo Kiai,” akhirnya kalimat itu terucap juga.
Orang tua di depanku itu terlihat bingung, sampai mengerutkan dahinya.
“Masih sendiri? Serius? Apa lagi yang kau pikirkan Nduk? Temanmu ini sudah punya momongan, kenapa masih sendiri?,”
“ Sepertinya Allah belum menampakkan jodoh saya Romo Kiai,”
***
“Iya,”
Jawaban orang tuaku sungguh membuatku syok. Tak percaya akhirnya mereka menerima lamaran laki-laki di depanku ini. Dia Iqbal, meskipun putra Romo Kiai, tapi jauh dari kesan santri. Kaos oblong, celana jins pucat, jaket kulit. Yang kutahu hobby-nya dulu memutar lagu Bon Jovy, Linkin Park, atau Green Day keras-keras. Sampai terdengar di pondok putri. Meskipun aku mengauminya, aku tak pernah berharap dia jadi suamiku. Paling juga ditolak orang tuaku.
Tapi sekarang?
“Jadi kapan kiranya pernikahan ini diselenggarakan Romo Kiai?,” bapakku bertanya pada kiai sepuh yang sangat diseganinya sejak dulu.
“Lebih cepat lebih baik, segera diresmikan saja. Besok lusa insya Alloh lebih baik,” jawabnya mantab.
“Alhamdulillah, sebentar Romo Kiai, saya ke belakang dulu,” bapak memberi isyarat padaku, aku mengikutinya.
Seperti biasa, rapat dadakan. Sekarang aku yang bengong, tak tahan aku bertanya pada orang tuaku. Apa alasan orang tuaku menerima laki-laki itu. Bukankah jauh sekali dari tipenya? Ke mana bibit bobot bebet itu?
“Jangan menilai orang dari luarnya Nduk. Sebenarnya sebagian kriteria menantu pilihan bapak ada di nak Iqbal, dan sudah lama sekali bapak pengen besanan sama kiai, sudahlah kamu manut saja sama pilihan bapak,”
            Oh jadi sebenarnya orang tuaku dulu ngincernya mas Iqbal. Huh, bilang kek dari dulu. Aku juga tak kan menolak. Kenapa membiarkanku menggalau dengan jodohku yang tak kunjung datang.
            Lamaran kali ini sepi, tak ada keramaian. Tapi akhirnya, aku, Andini Dwita Zahroh, menemukan jodohnya. Jangan lupa datang ya di pernikahanku besok lusa, akan kuceritakan bagaimana mas Iqbal-si cowok misterius-itu sebenarnya. Dia baik dan sholeh kok, kalian jangan khawatir.
            Sudah ya, aku mau menyiapkan hidangan untuk calon keluargaku dulu.

***

Tentara Bertameng Kanvas (Cerpen Antologi Senyum)

Tentara Bertameng Kanvas
Cerpen Impian Nopitasari

“Belum tidur Mas?” tanya Arum pada pria yang sedang melukis di beranda.
“Eh, kamu Rum, belum. Ini masih nyelesain satu lukisan.”
“Mas, ini aku bawain tengkleng1, beli di warung gapura depan pasar Klewer. Enak lho Mas, dimakan ya!”
‘‘O ... ya...maturnuwun2 yo. Entar pasti tak makan, taruh di dalam dulu.”
Arum masuk ke dalam kontakan Dardiri, pria yang melukis itu. Rumah kontakan itu kecil, namun tertata rapi, di sana-sini terpajang lukisan klasik dan naturalis karya Dardiri.
“Buat pameran ya Mas?” tanya Arum setelah keluar dari ruangan dan duduk di kursi beranda.
“Iya, deadline-nya tiga hari lagi. Kamu mau nonton Rum? Di aula ISI”
“Pengen sih Mas, tapi aku harus ngadepin sidang kelulusan, pusing Mas, dosen pengujiku galak.”
“Ah ... tenane, lha wong kamu juga galak kok Rum ... Rum ..., yo wis aja mrengut ya, tak do’a in muga-muga lulus.3”
“Amin.” Arum mengamini sambil tersenyum.
            Setelah berbincang sebentar, Arum mohon diri untuk pulang ke kosannya. Kos-kosan putri yang ditempatinya sekarang memang berhadapan dengan rumah kontrakannya Dardiri. Sementara itu Dardiri masih sibuk dengan goresan pisau paletnya. Sket-sket yang dibangunyan tak ubahnya adalah bentuk kekesalannya, ekspresi jiwanya. Ia membangun sosok tentara memanggul kuas, bukannya senapan, dan bertameng kanvas bukannya lempengan baja.
Sosok yang sempurna di matanya.
Ia belum memikirkan judul yang tepat untuk lukisannya. Ia hanya ingin menyelesaikan sebelum tanggal 10 November, hari dimana lukisan-lukisannya akan dipamerkan. Pameran itu sekaligus untuk memperingati Hari Pahlawan.
“Ah, hari apa lagi ini. Aku sudah tidak percaya lagi dengan kepahlawanan, atau apalah. Apalah arti kepahlawanan untuk seorang anak yang tak diakui oleh ayahnya, sosok yang seharusnya menjadi pelindung, pahlawan bagi keluarganya.”Gumam Dardiri dalam hati.
Mukanya masam, hatinya kelu, seperti ada beban mental yang mengganggunya. Kanvas hijau kembali memanjakan mulutnya yang makin membiru karena sering menghirup nikotin. Kepulan asap terakhir juga menandai selesainya goresan pisau paletnya.
Malam semakin sunyi. Tanda-tanda kehidupan kian sepi. Kecuali bunyi jangkrik dan suara cek-cek cicak yang berkejar-kejaran di sekitar baling-baling kipas angin yang menambah keributan.
“Akhirnya, selesai juga lukisan ke seratusku ini,” tukas Dardiri, nampak puas.
Sesosok tentara bersenjata kuas dan bertameng kanvas memandanginya. Melihat itu, Dardiri seperti berkaca. Senyum kecut tersungging di bibirnya. Ia hampir lupa dengan tengkleng kiriman Arum tadi, ia tak menyadari perutnya belum terisi sejak sore. Cacing-cacing di perutnya berdemonstrasi, orasinya terdengar dari luar. Minta tuntutanya dikabulkan : segera isi bahan bakar. Mendengar itu Dardiri segera membereskan perabot-perabot melukisnya juga merapikan rambutnya yang gondrong tapi rapi. Setelah itu ia masuk ke dalam.
Dituangkannya tengkleng ke mangkok, juga nasi yang dibungkus kertas minyak di atas piring. Melihat itu, dardiri teringat tengkleng buatan simboknya di Jepara. Tiba-tiba rasa rindu menusuk hatinya.
“Tentu tengkleng buatan simbok lebih enak dari ini,” katanya pada diri sendiri.
“Ah bodo amat, sudah dikasih kok masih protes to Dar, yang  penting isi perutmu yang sudah keroncongan itu” katanya lagi, memprotes opininya yang pertama.
            Tapi rindu tetap saja mengusik pikirannya. Sudah lima tahun ia tidak berjumpa simbok. Bagaimana kabar beliau? Tentu saja sudah bertambah renta. Apa Nastiti menjaganya dengan baik? Jatmiko tentu sudah duduk di bangku SMA. Dan Bapak? Ah tiba-tiba satu kata itu muncul lagi. BAPAK, satu sosok yang sangat dibencinya. Seseorang yang tak ingin diingatnya.
Seseorang yang ingin ia buang jauh-jauh dari memorinya.
            Bapak tidak lebih dari seorang diktator, otoriter, suka memaksakan kehendaknya. Setiap hari Dar harus lari keliling kampung, push up, set up, skot jam 50 kali atau bahkan lebih adalah kewajiban yang tak bisa diganggu gugat. Bapak yang seorang purnawirawan TNI AD itu ingin menjadikannya seorang tentara. Ya, seorang tentara seperti Bapak. Baginya tentara adalah profesi segala-galanya. Profesi wajib yang harus disandang anaknya, Dardiri.
“Pak, aku nggak mau jadi tentara!” protes Dardiri suatu hari.
“E ... bocah gendheng4, kamu harus jadi tentara! Dengan itulah kamu bisa membuktikan baktimu kepada nusa dan bangsa!”
“Berjuang kan tidak harus memanggu senjata pak, dengan belajar atau bekerja sungguh-sungguh itu juga merupakan bakti kepada negara, lagi pula sekarang jamannya beda, 66 tahun Indonesia merdeka. Saatnya berjuang dengan otak, bukan dengan bedil.”
‘‘Kamu kok jadi tambah wani5 sama orang tua ya. Tentara itu tindakan kongkret untuk membela negara. Jika kamu berhasil membunuh musuhmu, kau akan diberi bintang penghargaan, jika kamu mati, kamu mati menang, tidak akan sia-sia.”
“Tak sudi aku pak, mati membela memakan uang rakyat, tak sudi aku mati sia-sia seperti itu,” bantah Dar.
“Lalu ... apa yang kamu perjuangkan dengan kuas-kuas bodohmu itu? Apa yang kamu sumbangkan pada negara selain gambar-gambar konyolmu itu? Melukis? Bah ... pekerjaan yang pantas untuk seorang pengangguran.”
“Pak jangan remehkan hobiku! Lihatlah Chairil Anwar, dia berjuang melalui puisi, Ismail Marzuki, membakar semangat pejuang bangsa Indonesia dengan rangkaian nada. Ricky, Alan, Susi membela negara di arena bulutangkis! Mereka juga pahlawan pak! Pahlawan tak harus berdebu debam dengan granat, aku bukan fotokopian bapak. Bapak hanya ingin mendoktrin aku untuk menjadi tentara! Ya kan pak??”
Plak!
sebuah tamparan mendarat di pipi Dardiri, bukan sakit di pipi yang ia rasakan, tapi di hatinya yang terdalam, sumpah serapah mengalir bagaikan arus air.
            Dardiri membanting pintu kamar dan merebahkan diri di kasur. Tak ada yang berani menentang bapak. Simbok, Nastiti dan Jatmiko, ibu dan adik-adiknya hanya terdiam melihat drama tadi. Bapak memang terobsesi dengan keinginannya menjadikan Dardiri sebagai tentara. Hanya dia harapan satu-satunya anak yang bisa mewarisi profesi bapak.
            Nastiti, seorang wanita, tidak mungkin menjadi tentara seperti impian bapak, juga Jatmiko, adik bungsunya yang juga tak mungkin menjadi tentara karena sejak kelas dua SD ia sudah berkacamata. Hanya Dardirilah harapan terakhir ayahnya.
Pucuk dicinta, ulam pun tak kunjung tiba. Keinginan Bapaknya tak diimbangi dengan kemauan Dardiri. Dar tak habis pikir, kenapa bapak sangat ingin menjadikannya tentara? Sedikitpun ia tak menyukai pekerjaan itu. Menjadi pelukis terkenal adalah impiannya sejak kecil. Banyak lomba ia menangkan, tapi semua itu tak mendapat tanggapan dari bapaknya. Hanya simbok yang selalu menyemangatinya dan bersabar menghadapi bapak.
Simbok yakin suatu saat nanti bapak akan mengerti dan berubah.
            Jika tak ada simbok, Dar tak yakin masih mampu menghadapi cobaan ini. Berhari-hari perang dingin dikobarkan bapak dan Dardiri. Menambah kabut rumah semakin pekat. Orang rumah tak ada yang berani menegurnya. Nastiti minggat ke rumah buliknya di Mayong, tidak tahan dengan suasana rumah yang semrawut. Juga Jatmiko, yang memilih bertahan di kamar seharian, mengerjakan rumus-rumus fisika dan matematika dari pada harus keluar melihat macan bertikai.
Kejadian ini berlangsung selama satu minggu.
Dar berhasil lulus SMA dengan nilai yang baik, keinginan kuliah di ISI semakin menggebu-gebu. Jurusan seni rupa sangat menyenangkan baginya. Bapaknya pun masih ngebet ingin memasukkanya ke AKMIL. Cek cok selalu terjadi setiap hari.
Ketika sekolah mengadakan pameran dalam rangka pelepasan kelas tiga, Dar bersemangat untuk ambil bagian dalam acara tersebut. Ia ingin memajang hasil karya-karyanya yang menumpuk di kamar. Ada kepuasan di hatinya, seandainya ada orang yang menilai hasil coretannya.
Dar kaget bukan kepalang, bapak telah merusak semuanya. Kuas-kuas dipatahkan, cat air dibuang, dan lukisannya dibakar di halaman. Semuanya hangus tak tersisa, begitu juga perasaan Dar. Ia tak mau mentoleransi perbuatan bapak. Berbekal ijazah dan SKHU, serta baju seadanya, Dar pun minggat dari rumah.
“Bocah edan! diwenehi ngerti malah minggat!6” Teriak bapaknya.
“Buat apa aku di rumah ini pak? Buat jadi pajangan? Aku capek dengan semua perilaku bapak, aku mau nentuin hidupku sendiri pak!”
“Kamu mau mulung dengan kuas-kuasmu itu? Yo wis sak karepmu, minggat kana, ora sudi aku nduwe anak kayak kowe!7”
“Aku juga nggak sudi punya orang tua seperti bapak. Mbok, maaf aku harus pergi. Nastiti, Jatmiko,  jaga simbok,” kata Dardiri berpamitan pada keluarganya sambil berlalu.
“Dardiriiiii!!!” simbok menangis meraung-raung.
“Sabar ya mbok, Mas Dar pasti pulang,” hibur Nastiti.
*
            Dar tidak tahu kemana seharusnya pergi, tiba-tiba dia teringat tujuannya dulu, kuliah di ISI, ya ISI. Inilah perjalanan pertamanya ke kota Solo. Berhari-hari Dar luntang-luntung di jalanan, sesekali dia melukis dengan peralatan yang sempat dibawa, yang selamat dari amukan bapak.
Sejak itulah dia menjadi pelukis jalanan.
            Suatu ketika ada seseorang yang tertarik dengan lukisan Dar. Singkat cerita, orang itu menawari Dar untuk ngontrak dirumahnya. Dialah Cak No, satpam ISI dari Surabaya yang menetap di Solo. Sejak itulah Dar tinggal di rumah kontrakan Cak No, dengan bekerja serabutan sambil terus melukis Dar bisa melanjutkan kuliah di ISI seperti impiannya.
Dar tersadar dari lamunannya, ternyata dari tadi ia tak berkonsentrasi makan tengklengnya Arum. Ia seakan diingatkan kembali oleh flash back masa lalunya. Kantuk pun membawanya ke alam mimpi.
*
Tok ... tok ... tok ...
”Assalamu’alaikum,” terdengar bunyi ketukan pintu dan ucapan salam.
Dengan bermalas-malasan Dar membuka matanya. Ternyata sudah pagi.  Ia kesal sekali siapa yang membangunkannya. Setelah mencuci muka dan merapikan rambutnya, ia membuka pintu.
Glek! Darah Dar seakan membeku, berhenti mengalir ketika melihat tamu di hadapannya.
“Nas ... Nastiti?” Dar terkejut.
“Maaf  Mas Dar aku mengagetkanmu,” jawab Nastiti lirih.
“Lho ... kamu kok bisa ke sini? Dari mana kamu tahu aku tinggal di sini?”
“Ah nggak penting Mas, Titik kesini Cuma mau minta tolong sama Mas Dar,”
“Minta tolong apa? Ehm...duduk dulu Tik!”
“Mas, aku mohon, Mas pulang ke Jepara,” kata Nastiti menghiba.
“Pulang? Kenapa? Nggak ah!” tukas Dar ketus.
“Mas, bapak sakit Mas, hipertensinya kambuh, bapak terjatuh di kamar mandi, sakitnya semakin parah. Kumohon Mas pulang menjenguk bapak,” jelas Nastiti.
“Tik, kamu nggak tahu ya? Aku masih sakit hati sama bapak,” kata Dar dengan raut muka marah.
“Mas lupakan egomu sebentar! Aku rasa umur bapak nggak lama lagi. Tolong, kali ini saja Mas pulang,” Nastiti masih mencoba memohon.
            Dar diam sesaat, pikirannya kacau. Tiga hari lagi pamerannya digelar. Apa dia harus menengok bapak? Orang yang membuatnya jadi begini. Tapi dia juga orang tuanya. Dar tak mau dianggap sebagai anak durhaka.
“Terserah Mas, yang penting Titik sudah menyampaikan pesan, terserah Mas mau menjenguk bapak atau tidak. Tapi Titik mohon, Mas mau pulang ke rumah,” ujar Nastiti sambil mohon diri.
“Tik, nggak nginep dulu?  Kamu pasti capek,”
“Nggak Mas, simbok nunggu di rumah, aku hanya menyampaikan pesan aja ke Mas,”
Dardiri menatap Nastiti dengan nanar. Berkecamuk perang hatinya, pulang? Tidak? Pulang? Tidak? Ah pusing!
*
Dar  sudah memantapkan hatinya. Satu keputusan sudah diambil. Dia harus pulang. Bagaimanapun juga dia tidak mau dianggap sebagai anak durhaka. Sebisa mungkin dia akan mengikhlaskan untuk memaafkan bapak, karena dia beranggapan kalau bukan hanya bapak yang bersalah, tapi juga dirinya. Mengenai pameran, dia sudah menyerahkan semuanya ke Sugeng, teman kuliahnya untuk mengurusi semuanya.
Semuanya sudah siap, tinggal berangkat. Dar sempat memandang lukisannya. Lukisan tentara memanggual kuas bertameng kanvas. Entah kenapa ia selalu memandangnya. Kunci rumah sudah dititipkan ke Cak No. Kaki pun siap membawanya ke terminal.
Di dalam bus, Dar semakin memantapkan niatnya untuk pulang.
Sepanjang perjalanan Dar memikirkan kemungkinan kejadian ketika dia pulang. Apakah bapak masih seperti yang dulu ketika dia minggat? Yang pasti bapak sudah tambah renta.
Setelah lima jam perjalanan akhirnya Dar sampai di rumah.
“Dar, akhirnya kamu pulang juga to le ...8” kata si mbok sambil menangis melihat kepulangan Dar.
“Ya  mbok, Dar kangen sama si mbok,” kata Dar sambil memeluk simboknya.
Simbok membawa Dar ke kamar, di situ terbaring bapak dengan kondisi lemas, tiba-tiba keharuan muncul dibenak Dar. Menghapus semua benci dan dendam terhadap bapak.
Dar bersimpuh dan menangis di samping bapaknya.
“Dar ... ini benar-benar kamu?” kata bapak dengan pelan
“Ya, pak, ini Dar, aku sudah pulang pak,”
Hening.
“Pak, maafin Dar ya, Dar banyak salah sama bapak, dosaku banyak sama bapak. Bapak, dibawa ke dokter ya? Biar cepat sembuh,” kata Dar terisak.
“Nggak usah, aku lihat kamu aja seneng, bapak juga minta maaf, luputku yo akeh le,9”
“Maafin Dar ya pak, Dar nggak bisa buat bapak bahagia, karena Dar nggak jadi tentara seperti keinginan bapak”
“Wis...wis...itu bukan kesalahan kamu, tapi kesalahan bapak, bapak yang terlalu otoriter, sekarang bapak sudah sadar, kebahagiaanmu, kebahagiaan bapak juga, apapun profesimu bapak akan selalu mendukung. Selama profesi itu baik”
“Jadi bapak nggak marah Dar jadi pelukis?”
“Apapun pekerjaanmu, kau tetap tentara bagiku, bagi simbok, bagi Nastiti, bagi Jatmiko, bagi keluarga ini le...”
“Makasih ya pak.”
Bapak menyuruh simbok mengambil peti di lemari, simbok memberikannya pada bapak, Dar membukanya.
“Apa ini pak?” tanya Dar
“Bapak nggak bisa kasih apa-apa ke kamu, bedil ini ambil agar kau selau ingat dengan bapak, kuas dan lipatan kanvas ini, agar kau tetap serta dengan pekerjaanmu, dan ini ... surat tugas dari bapak, bukti kebanggaan seorang bapak kepada anaknya.” Tak lama, tangan bapak terkulai, lalu memejamkan mata.
“Pak...” Dar tak bisa meneruskan kata-katanya.
“Bapak cepat sembuh ya, biar ke Solo, lihat pameran lukisan berikutnya? Pak...pak...” digoyang-goyangkan tubuh ayahnya, tapi tak ada respon, lalu dipencetnya nadi ayahnya.
”Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun!”
Air mata mengalir tak terbendung dari mata simbok, begitu pula Nastiti dan Jatmiko. Mereka telah kehilangan figur seorang pemimpin yang tegas, keras, namun berwibawa dan sayang keluarga seperti bapak.
“Pak, Dar janji akan menjadi tentara buat keluarga ini, buat bapak, buat negara kita.” Janji Dar masih dalam derai tangis yang terurai.
~Tamat~
Catatan:
1. sayur  yang dibuat dari daging sapi/kambing
2. Terima kasih ya
3. Ah, yang bener? Lha wong kamu juga galak kok Rum, ya sudah jangan cemberut,    tak doain moga-moga lulus
4. E..anak gila
5. Berani
6. Anak gila, dikasih tahu malah minggat
7. Ya sudah, terserah kamu, minggat sana, nggak sudi aku punya anak kaya kamu
8. Le: panggilan untuk anak laki-laki di Jawa
9. Kesalahanku juga banyak Nak